Skip navigation

Berhubung lagi hangat soal subsidi BBM, saya iseng membuat neraca BBM nasional. Lifting dan konsumsi (kuota) BBM subsidi (premium atau solar).

Lifting minyak Indonesia sebesar 950,000 barrel/day atau setara dengan 342,000,000 barrel/tahun dengan asumsi 360 hari kerja setahun.

Mari kita asumsikan kuota BBM subsidi (premium dan diesel) sebesar 50 juta kilo liter atau 314,465,409 barrel untuk tahun 2012. Sekilas terlihat bahwa produksi minyak nasional lebih tinggi dari konsumsi. Namun ada satu hal, yang kita produksi adalah minyak mentah dan untuk mendapatkan 1 liter bahan bakar secara rule of thumb membutuhkan 2 liter minyak mentah. Maka untuk mendapatkan 314,465,409 barrel bahan bakar, dibutuhkan 628,930,818 barrel minyak mentah. Dengan demikian terjadi kekurangan pasokan minyak dari dalam negeri sebesar 286,930,818 barrel. Untuk mengatasi kekurangan pasokan ini maka dilakukan impor minyak mentah.

Sekarang mari kita masukan angka tersebut dan harga minyak dalam perhitungan.

Asumsi yang saya gunakan dalam perhitungan ini sebagai berikut:

Harga ICP = 105 USD/bbl
Harga jual BBM subsidi = 4500 IDR/ltr
Harga minyak mentah impor = 95 USD/bbl
1 USD = 9000 IDR
Penerimaan negara dari hasil penjualan minyak mentah sesuai harga ICP

342,000,000 bbl x 105 USD/bbl = 35,910,000,000 USD = 323,190,000,000,000 IDR

Kemudian neraca jual beli minyak mentah dan BBM subsidi dari Pertamina:

Pemasukan
Penjualan BBM subsidi sesuai kuota 50,000,000,000 liter x 4500 IDR/ltr = 225,000,000,000,000 IDR
Pengeluaran
Beli crude lokal 342,000,000 barrels x 105USD/bbl = 35,910,000,000 USD= 323,190,000,000,000 IDR
Beli Crude impor 286,930,818 barrels x 95 USD/bbl = 27,258,427,673 USD 245,325,849,056,604 IDR

Dari perhitungan diatas maka pendapatan pemerintah dan Pertamina dari jual beli minyak mentah dan BBM subsidi adalah sebesar -20,325,849,056,604 IDR. Perhitungan diatas belum memasukan biaya distribusi, lifting dan pengolahan.

Loh kok Pertamina harus membeli minyak dalam negeri sendiri? Baiklah, anggap saja minyak dalam negeri diberikan gratis oleh negara untuk kemudian diolah dan dijual oleh pertamina sebesar IDR 4500/ltr. Berarti pemasukan negara dan pengeluaran pertamina dari jual beli minyak ini juga nihil. Hasil perhitungan akan memberikan defisit yang sama.

Kok hasilnya beda dengan hitungan Kwik Kian Gie? Ya jelas, karena Kwik Kian Gie menganggap minyak mentah dapat terkonversi 100% menjadi Premium. Maklum, dia kan ahli ekonomi, gak pernah belajar pengolahan minyak🙂.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: