Skip navigation

Beberapa tahun belakangan, saya hampir tidak pernah menggunakan kendaraan umum untuk bepergian. Dalam tiga tahun terakhir, tercatat saya hanya dua kali naik angkutan kota dan satu kali naik bus transjakarta. Kalau tidak bawa kendaraan sendiri, ya saya naik taksi.

Sombong? mungkin, tergantung gimana melihatnya

Tapi saya ada alasan dibalik itu.

Alasan yang pertama, saya tidak suka nyaman bila harus bersentuhan dengan orang yg tidak saya kenal tanpa saya inginkan. Desak-desakan apalagi. Saya sudah kenyang menghadapi ini dulu waktu masih SMA dan saya phobia karenanya. Loh, waktu di Singapura? Saya memilih menunggu bus berikutnya, duduk dikursi, deket jendela, minimum sentuhan, daripada harus memaksa masuk.😀

Alasan yang kedua, repot bin ribet. Misalnya saya mau ke Blok M dari rumah saya (Depok), maka saya harus naik: 1. Angkot 2. Angkot, 3. disambung dengan kopaja (ada dua opsi, empet2an sampe blok M atau ke Pasar Minggu) 4. Metromini yang tidak penuh (dengan resiko dioper ditengah jalan). Ribet kan? Berapa kali harus ganti? Blm lagi kalo mau ke Bintaro misalnya. hadeeeh…

Alasan yang ketiga, I don’t trust them, especially with recent accidents. Ini alasan yang paling mendasar. Saya tidak percaya dengan angkutan umum. Kejahatan didalamnya, sopirnya yang ugal-ugalan yang menganggap penumpang hanyalah seonggok daging demi kejar setoran. Saya tidak mau menyerahkan hidup saya yang berharga begitu saja kepada orang-orang ini.

Pagi tadi saya baru saja melihat Koantas Bima jurusan kampung rambutan-Lb. Bulus menabrak kijang innova di tol JORR.

Kalau ada perbaikan apakah saya mau menggunakan kendaraan umum? Mungkin. Sangat mungkin. Tapi kapan?

Jangan heran bila masyarakat berlomba-lomba memiliki kendaraan sendiri baik roda dua ataupun roda empat, karena mereka, sama seperti saya sudah hilang kepercayaan dengan layanan angkutan umum.

Saya bersyukur diberi kelebihan rezeki sehingga memiliki pilihan menggunakan kendaraan sendiri. Saya hanya bisa berharap pihak yang berwenang mengambil tindakan tegas kepada awak/pengusaha angkutan yang lalai akan keselamatan penumpangnya. Dan saya mohon kepada awak bus/angkot, manusia yang anda bawa itu masih HIDUP, mencari penghidupan untuk keluarganya, sama seperti ANDA. Hargailah mereka, layani mereka dengan baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: