Skip navigation

Subsidi BBM tahun 2010: Rp89,3 Triliun.

Kalau subsidi dianggap sebagai pemenuhan rasa keadilan bagi rakyat, mari kita hitung lagi, apakah benar demikian?  Kalau Rp 89.3 Triliun diberikan langsung ke setiap kepala di republik ini, maka tiap kepala akan mendapatkan Rp 376,793 pertahun. Namun benarkah?

Subsidi sebanyak itu hanya dinikmati oleh orang-orang yang memiliki kendaraan bermotor yang menggunakan BBM bersubsidi, sedangkan mereka yang tidak memiliki kendaraan bermotor, tentu saja tidak dapat menikmati subsidi ini secara langsung. Jangankan mereka yang tidak memiliki kendaraan bermotor, antara pemilik kendaraan roda dua dan roda empat pun terjadi ketimpangan dalam distribusi subsidi BBM ini. Subsidi BBM hanya menguntungkan mereka yang kaya yang sesungguhnya tidak memerlukan subsidi BBM. Sementara si miskin tidak menikmatinya. Apakah ini yang mencerminkan keadilan?

Kalau subsidi sebanyak itu digunakan untuk lebih meratakan pembangunan, pembangungan gedung sekolah dan madrasah, rumah sakit dan puskesmas, bantuan pangan dan pertanian, modal kerja, berapa banyak  rakyat miskin yang terbantu? Rakyat (miskin) lebih membutuhkan itu dibandingkan subsidi BBM yg mereka sendiri tidak menikmati. Subsidi untuk rakyat? Rakyat yang mana? Ini merupakan investasi untuk masa depan bangsa dan lebih bermanfaat daripada terbuang menjadi asap kendaraan bermotor.

Bagaimana dengan kendaraan umum? Bukankah tarif akan naik? Ongkos pengangkutan barang?

Okelah, pemerintah mengambil kebijakan untuk membatasi subsidi mulai Januari 2011. Kendaraan roda empat pribadi (pelat hitam) dilarang menggunakan BBM subsidi. Langkah awal yang bagus, mengurangi beban subsidi sekaligus tetap menjaga subsidi tepat sasaran, tapi sampai kapan?

Banyak yang bertanya berapa sih sesungguhnya subsidi yg dibayarkan pemerintah perliter premium? Harga keekonomian premium adalah Rp 6200/ltr, berarti pemerintah menanggung beban subsidi sebesar Rp 1700/ltr, jika konsumsi mencapai 39 juta kilo liter, maka dibutuhkan anggaran sebesar 63 Triliun rupiah pertahun untuk subsidi.

Harga BBM di Indonesia adalah yang termurah di Asia tenggara, meskipun bahan bakunya masih diimpor. Jika harga minyak mentah adalah US$ 85/bbl atau Rp 4800/ltr, masuk akalkah jika harga premium dijual Rp 4500/ltr?

Kan Indonesia kaya…

Bung, sadar, ini bukan tahun 1970/1980 dimana konsumsi BBM masih rendah, produksi masih melebihi konsumsi bahkan kita ikut meramaikan pasar komoditas dunia dengan emas hitam saat itu. Tapi itu masa lalu, kita harus menyadari bahwa jaman sudah berubah, dulu diatas sekarang dibawah, dulu ekspor, sekarang impor!

Lalu gimana caranya untuk mengubah ini semua?

Kita harus mandiri man… Punya pride bahwa kita gak lagi meminta kepada negara untuk sekedar BBM. Tuntut apa yang perlu kita tuntut… Jalan yang baik hingga kepelosok negeri, pendidikan yang murah hingga Universitas, fasilitas kesehatan yang bermutu dan terjangkau. Tolak subsidi BBM langsung, karena kita gak butuh!

BBM murah gak bikin gue sehat, gak bikin gue pinter, justru malah bikin gue males dan bodoh…

Ah tapi nanti dikorupsi…

Urusan korupsi, biarlah koruptor-koruptor itu membusuk di dunia.

One Comment

  1. setuju


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: