Skip navigation

Sebelumnya, Dirgahayu Republik Indonesia ke-64. MERDEKA!

Berbicara sebuah negara yang membentang sepanjang 5000 kilometer dari barat ke timur, dengan lebih dari 17000 pulau besar dan kecil tidak dapat dilepaskan dari sejarah yang ada sejak berabad silam dan upaya mempersatukan Nusantara dalam satu panji utuh. Dalam tulisan ini, bersentuhan dengan semangat #indonesiaunite yang sedang bergelora di dalam dada para pemuda – generation Y, if you will – saya akan mengulas dan mengajak melongok sejenak akan sebuah catatan panjang sejarah Indonesia bersatu, yang mungkin banyak terlupakan oleh kita saat ini.

Indonesia Bersatu, Sebuah Awal

Catatan penting akan keberadaan Nusantara pertama kali diabadikan dalam prasasti yang ditemukan di sekitar wilayah Bogor dan Bekasi, yang mencatat keberadaan sebuah kerajaan yang dikenal dengan kerajaan Tarumanagara pada abad ke-4 masehi, yang mencapai puncak kejayaan di masa pemerintahan Raja Purnavarman. Kerajaan yang berpusat di sekitar Bogor dan Bekasi ini merupakan cikal-bakal dari kerajaan-kerajaan yang berdiri selanjutnya di pulau Jawa. Konon kabarnya, pendiri kerajaan ini masih memiliki hubungan darah dengan pendiri Kerajaan Kutai di Kalimantan, yang terkenal dengan Mulavarman.

Kerajaan ini mulai mengalami kemunduran sepeninggal Purnavarman dan kemudian terpecah menjadi dua kerajaan di Pulau Jawa yaitu kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Sementara itu di Sumatera berdiri Kerajaan Srivijaya yang kemudian berkembang menjadi Kerajaan besar pertama di Nusantara yang memiliki pengaruh hingga ke Thailand dan Kamboja di utara, hingga Maluku di timur. Di pulau Jawa sendiri mulai berdiri kerajaan-kerajaan selepas pecahnya Tarumanagara. Kerajaan Sunda yang meliputi sebagian wilayah Jawa Barat dan Banten sekarang serta kerajaan Galuh yang memiliki wilayah kekuasaan Jawa Barat bagian timur hingga Jawa Tengah.

Kerajaan yang mendapat catatan paling penting di periode pra-kolonial ini adalah kerajaan Majapahit. Kerajaan ini didirikan oleh Raden Wijaya pada abad ke-13 dan mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk dengan didampingi oleh Maha Patih Gajah Mada. Ambisi Gajah Mada menyatukan kepulauan tercermin dalam sumpahnya yang dikenal dengan Sumpah Palapa

“Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukita palapa, sira Gajah Mada : Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa.”

Majapahit tercatat sebagai kerajaan terbesar di Nusantara yang berhasil menyatukan kepulauan Nusantara baik secara langsung dibawah kekuasaannya atau tidak langsung (hanya pengaruh). Sepeninggal Hayam Wuruk dan berbarengan dengan masuknya pengaruh Islam di Nusantara, Majapahit mulai mengalami kemunduran. Sementara itu para penjelajah dari barat diilhami oleh keberhasilan Colombus menemukan dunia baru dan penemuan penting di dunia navigasi laut membuat para petualang ini mulai mendatangi wilayah timur jauh yang juga dikenal sebagai sumber rempah-rempah. Dan era perdagangan global pun dimulai. Nusantara yang berada dipersimpangan arus pelayaran international dari timur jauh ke eropa merupakan lokasi strategis sebagai “hub” bagi para pedagang ini.

Yang menjadi catatan dari upaya menyatukan nusantara pada era ini adalah, bahwa ambisi kekuasaan dan feodalisme kental mewarnai masa ini. Perang perebutan kekuasaan atau pengaruh terhadap suatu wilayah, pemaksaan untuk mengakui kekuasaan kerajaan yang lebih besar adalah ciri dari upaya ini. Maka wajar ketika kerajaan penguasa (empire) mengalami kemunduran kemudian terjadi perpecahan dan kekacauan.

Indonesia Bersatu, Era Kolonial

Dimasa ini, Nusantara terpecah atas kerajaan-kerajaan yang saling berebut kekuasaan dan pengaruh. Perang antara satu kerajaan dengan yang lain, bahkan perang saudara terjadi. Sebagai contoh Mataram yang berusaha untuk menangkal serangan orang-orang Madura dan Makassar. Terpecahnya Nusantara memberi celah untuk para pendatang asing menggunakan pengaruhnya untuk kemudian perlahan menguasai sumber daya. Bahkan Mataram meminta bantuan Belanda untuk menangkal serangan Madura dan Makassar, dengan iming-iming diberi wilayah untuk dikuasai.

Dengan kekuatan senjata yang lebih maju dibanding pedang dan tombak, bangsa Eropa makin kuat menanamkan kekuasaannya dibalik feodalisme raja-raja. Bukan cerita baru bila mereka mendukung seseorang yang ingin berkuasa untuk menggulingkan kekuasaan yang sedang berjalan. Taktik mengadu domba ini mencapai puncaknya ketika Mataram harus dibagi dua, Yogyakarta dan Surakarta.

Meski demikian, perlawan secara sporadis diberikan untuk meraih kembali wilayah-wilayah penting dari kekuasaan bangsa asing. Penyerbuan Batavia oleh laskar Fatahillah yang kemudian berhasil merebutnya dan mengganti namanya menjadi Jayakarta. Pangeran Diponegoro melawan kesewanangan Belanda ketika dipaksa untuk menyerahkan tanah leluhurnya untuk pembangunan jalan.

Perlawanan ini jauh dari berhasil, karena dilaksanakan sendiri-sendiri dan dengan persenjataan yang jauh dari memadai untuk melawan persejataan asing.

Indonesia, Awal Abad 20

Di awal abad 20, berkembang pemikiran bahwa negara penjajah memiliki tanggung jawab moral terhadap negeri jajahannya. Faham ini dikenal dengan politik etis atau politik balas budi yang dipelopori salah satunya oleh Van de Venter. Salah satu poin penting dari politik balas budi ini adalah memperluas akses pendidikan kepada para penduduk pribumi, yang kemudian dijalankan oleh pemerintah kolonial. Salah satunya dengan membuat sekolah dokter (STOVIA, sekarang FKUI) di Batavia dan THS (sekarang ITB) di Bandung, meskipun dibalik pendirian sekolah tinggi tersebut lebih didorong oleh kebutuhan pemerintah kolonial sendiri akan tenaga terampil dibidang kesehatan dan infrastruktur.

Dengan lebih terbukanya akses pendidikan (meskipun masih terbatas untuk golongan tertentu), makin banyak kaum pribumi yang terpelajar yang mulai memilik kesadaran akan kondisi disekitarnya. Meski kebanyakan adalah golongan priyayi dan ras campuran serta putra saudagar, namun atas pengaruh revolusi perancis, maka prinsip kesetaraan mulai menjadi perhatian. Perjuangan menuntut kemerdekaan pun dimulai. Boedi Oetomo didirikan oleh Dr. Sutomo pada tanggal 20 Mei 1908. Berdirinya Budi Utomo menjadi awal gerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia. Saat ini tanggal berdirinya Budi Utomo, 20 Mei, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Kemudian Indische Partij yang merupakan partai politik pertama di Hindia Belanda, berdiri tanggal 25 Desember 1912. Didirikan oleh tiga serangkai, yaitu E.F.E. Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara. Indische Partij, yang berdasarkan golongan indo yang makmur, merupakan partai pertama yang menuntut kemerdekaan Indonesia.

Di era ini, perjuangan menuju kemerdekaan mulai menemukan arahnya. Dan puncaknya digelarlah Kongres Pemuda. Pada Kongres Pemuda II tercapailah suatu deklarasi yang kemudian dikenal dengan Sumpah Pemuda. Sumpah pemuda terdiri dari tiga isi penting:

  • PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
  • KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
  • KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

Inilah cikal bakal Indonesia, sebuah pijakan baru dalam arah perjuangan mencapai kemerdekaan. Indonesia 1.0.

Yang menjadi catatan dengan adanya Sumpah Pemuda ini adalah upaya menyatukan Nusantara yang begeser dari ambisi kekuasan dan feodalisme pada masa pra-kolonial menjadi sebuah kesadaran atas persamaan nasib. (Inilah yang membuat saya terkadang merasa “risih” dengan “dicomotnya” ikon penyatuan Indonesia dari era pra-kolonial dalam kehidupan sekarang. Karena hal itu muncul “by force” bukan “by conscious”).

Indonesia 1.0 dan Indonesia Merdeka

Dengan adanya Sumpah Pemuda, arah perjuangan semakin jelas. Perjuangan pun bergeser dari angkat senjata menjadi angkat pena. Melalu gerakan-gerakan kepemudaan dan politik, tuntutan untuk Indonesia merdeka bergulir. Tokoh-tokoh pemuda bermunculan dari segenap penjuru tanah air. Soekarno, Hatta, Setiabudi, Ki Hajar Dewantara, semuanya berjuang demi kemerdekaan melalu jalur politik. Kebangkitan kesadaran pemuda ini membuat pemerintah Hindia Belanda gerah dan mulai melakukan pembersihan terhadap gerakan nasionalisme ini.

Sementara itu di benua Eropa sendiri keadaan mulai memanas dengan adanya perang dunia I dan kemudian perang dunia II. Perang dunia II dengan skala yang lebih besar membuat cengkraman bangsa Eropa melemah di Asia, khususnya Asia Tenggara. Jepang menjadi kekuatan baru di Timur yang kemudian mengusir bangsa Eropa dari Asia. Sempat dianggap sebagai saudara tua, namun kedatangan Jepang ternyata juga memiliki tujuan yang sama, penjajahan.

Perang Dunia II mencapai puncaknya ketika negara-negara Eropa dan Amerika Serikat bersekutu untuk melawan kekuatan fasis, Jerman, Italia dan Jepang. Negara Eropa yang dimotori Inggris dan Perancis melawan Jerman dan Italia di Eropa dan Afrika Utara dengan dibantu amerika. Amerika melawan Jepang di pasifik. Aliansi ini membuahkan hasil ketika sekutu mulai dapat memukul balik kekuatan fasis. Dengan Jepang dalam posisi terdesak, maka dibentuklah BPUPKI dan kemudian dilanjutkan oleh PPKI untuk persiapan kemerdekaan Indonesia. Perang Dunia II di wilayah Asia dan Pasifik sendiri berakhir ketika Jepang menyerah setelah Amerika menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada tanggal 8 dan 14 Agustus 1945. Saat itu terjadi kekosongan kekuasaan dengan menyerahnya Jepang, momen ini digunakan untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno membacakan Proklamasi kemerdekaan Indonesia. Inilah puncak perjuangan kesadaran akan persatuan yang diawali oleh Sumpah Pemuda. Inilah tujuan Indonesia 1.0.

Bersambung… [mudah-mudahan saya sempat menulis sambungannya segera)

One Comment

  1. *nungguin sambungannya*😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: