Skip navigation

Saya selalu mengibaratkan cinta itu seperti sebuah pohon. Perlu proses untuk tumbuh! Kalo menurut peribahasa jawa, witing tresno jalaran soko kulino. Cinta tumbuh seiring dengan kebersamaan – bisa diartikan juga sebagai komunikasi – yang terus menerus. Jadi tidak serta merta datang langsung besar.

Seperti pohon pula, cinta tentu diawali dengan benih-benih. Getar-getar awal ketika pertama kali bertemu, tanda adanya suatu benih cinta dihati. Supaya benih ini tumbuh, menjadi pohon cinta yang kokoh dan kuat, perlu diberi pupuk dan disiram. Seperti layaknya pohon juga kadang semakin tinggi dan kokoh dia tumbuh, terpaan angin akan semakin kencang pula. Berbagai godaan hendak menumbangkan pohon cinta ini. Tapi dengan kokohnya akar yang mencengkram relung hati, insyaAllah, cinta ini akan tetap kokoh berdiri.

Memang, tidak semua cinta akan cepat tumbuhnya, kadang ada yang perlahan dan lambat, dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan untuk merawatnya. Berbagai pupuk harus diberi, pupuk pengertian, pupuk ketulusan dan yang penting pupuk kepercayaan. Terus disiram dengan candaan, kehangatan dan senyuman makin menguatkan pohon cinta ini. Perlu juga diberi anti hama, supaya virus-virus yang bisa membuat cinta mati bisa hilang. Anti-selingkuh salah satunya. Itu adalah anti hama yang harus ditanamkan dalam hati.

Tapi yang palin penting, untuk menumbuhkan pohon cinta ini dibutuhkan komitmen yang kuat dari pasangan yang akan menanam benih cinta ini. Kalau satu saja merasa lelah, maka cinta ini akan tak terawat, dan kemudian mati…

Cinta seperti pohon, tak perlu alasan untuk tumbuh

Hanya perlu dipupuk dan disiram untuk tetap hidup

Setelah tumbuh, tak bisa dicabut begitu saja

Karena akarnya tertanam kokoh dan menjalar di dalam hati

Terkadang cinta seperti rumput liar

Tumbuh tak diinginkan, jika dibiarkan makin tinggi dan merajalela

Cabut sebelum semakin menggila dan merusak relung jiwa

jika tak bisa, mungkin bisa ditata dan dirawat untuk menghias taman hati.

Sekarang saya bertanya, kenapa kamu biarkan benih cinta itu mati, tanpa berikan kesempatan untuk tumbuh menjadi pohon cinta? Kenapa kamu hentikan pupuk dan siraman air yang dibutuhkan agar tetap tumbuh dan menghasilkan buah cinta?

One Comment

  1. Man.. puitis bener sih jadi orang..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: