Skip navigation

Hari itu kuliahku cuma dua mata kuliah saja. Selesaipun tidak terlalu sore. Aku teringat dengan Iin dan janjiku untuk menelponnya. Jari tanganku mulai menelusuri tombol-tombol di telpon genggamku, menekan menu, address book, nama… kemudian… muncullah nama orang yang aku cari, Iin…

Kupilih nama itu, kemudian kutekan pilihan call. Hmm sebersit keraguan menyergapku… aku batalkan sebelum tersambung dan diangkat. Gugup dan tidak percaya diri membekapku. Penyakit! Ini adalah penyakitku ketika berhadapan dengan wanita, apalagi dengan wanita yang aku jatuh suka padanya. Untuk sekedar mengajaknya jalan dan makan malam saja aku rasanya panas dingin. Meskipun wanita itu tak ada dihadapanku! Susah rasanya memulai percakapan, untuk sekedar berkata HALO atau HAI…

Kuberanikan diriku lagi, ku tekan tombol bertanda gagang telfon dengan warna hijau, nama Iin langsung terpilih dan tak lama kemudian…

tuuuut… tuuuutt…..

Nada sambung terdengar, berdebar, tiap bunyi nada sambung itu memacu detak jantungku 10 kali lebih cepat.  Aku semakin gugup, aku takut nanti malah mengganggu percakapanku…

“Halo Gun…”

Yah, pasrah sudah, suara diseberang sana sudah menjawab, mau tidak mau aku harus memulai percakapan…

“Halo In…hmm… ee….”
“Ada apa Gun?”
“Gak, gak ada apa..”
“Masih di RSHS?”
“Gak kok, udah pulang, sekarang lagi di kost nih…”
“Gak kemana-mana In?”
“Belum ada rencana sih, emang kenapa?”
“Hmmm, eh… hmmm”
Ini nih, penyakitnya kambuh lagi, duh, mau mengajak makan malam di kafe halaman aja susah banget sih rasanya.

“Gun…”
“Eh iya, kalo gak kemana-mana, kita ketemuan sambil makan malam di kafe halaman, mau gak?”
Entah dia menyadari atau tidak, rasa gugup membuat suaraku seperti bergetar, tapi tak peduli, yang penting niat sudah terlontar, Here goes nothing…

“Nanti malam ya? Boleh aja, mau ketemu jam berapa?”
Aku tahu dia tersenyum, kadang, kita bisa merasakan apakah lawan yang diajak bicara itu tersenyum atau tidak. Aku sedikit lega, Iin menerima ajakanku.

“Habis gue sholat maghrib, nanti gue tunggu di ujung gang ya… jam 7 deh…”
“Boleh, jam 7 kayaknya ok…”

Jam menunjukkan pukul 5 sore, aku segera berjalan pulang. Mungkin karena dalam suasana hati yang berbunga-bunga, aku tidak sadar kalau ternyata aku sudah sampai pasar simpang, karena tanggung aku lanjutkan saja berjalan sampai ke kost. Setibanya di kost sudah setengah 6. Akupun bergegas mandi. Nyanyian-nyanyian cinta berkumandang dari kamar mandi, aku merasa seperti kembali ke masa-masa SMA dulu ketika aku pertama kali mengajak cewe yang aku sukai kala itu untuk pergi berdua.

Selesai mandi, aku berpakaian, kemudian sholat maghrib, pakaian santai saja, kaos warna merah maroon, jeans yang agak sedikit belel, sepatu casual. Tak lupa deodoran dan farfum biar wangi… pokoknya kesan pertama jangan sampe mudah dilupakan. Nah bagian ini yang agak menyebalkan… menunggu!

Aku menunggu di kamarku, sedetik rasanya setahun dan semenit seperti seabad. Bolak-balik gelisah aku memindahkan saluran tv… acara tv seperti membosankan semua! Perlahan jam berdetak dan terus bergerak, ku amati pergerakannya, duh lambat sekali rasanya…. Cepat hai kau jam bergerak!! Aku sudah tidak sabar lagi….

Waktu menunjukkan pukul 6.30, akupun beranjak dari kasur dan keluar menuju tempat pertemuan kami, lagi, aku harus menunggu lagi… Dan jam pun bergerak makin melambat….

Di ujung jalan itu setahun kemarin… Ku teringat, ku menunggumu bidadari belahan jiwaku…

 

One Comment

  1. Aww.. all the butterflies in the stomach.. miss those moments.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: