Skip navigation

Baiklah, pertanyaan ini muncul karena terkadang kita merasa butuh alasan yang pas untuk melanjutkan hidup.

Pernah ada yang bertanya kepada saya, kenapa saya kepingin untuk nikah?

Karena saya ingin hidup saya lengkap.

Loh, memang kenapa dengan hidup saya sekarang? Kurang lengkap apalagi? Rumah sudah berdiri, meskipun bertipe 54 dan masih harus dicicil 20 tahun. Mobil ada, kerjaan lumayan menghasilkan. Lah terus apalagi yang belum lengkap? Coba lihat, apa yang belum ada? Istri dan keluarga, itu yang belum ada. Berarti hidup saya belum lengkap! Itu alasan kenapa saya ingin menikah yang datangnya dari saya sendiri. Selain itu menikah itu perintah agama saya (Islam), ini untuk menguatkan alasan saya menikah, agama sebagai sandaran dan tuntunan, saya berusaha menguatkan pilihan saya dengan bersandar kepada ajaran agama saya, seperti Al Qur’an dan hadits.

Nikah itu hukumnya wajib kalo menurut agama saya. Karena perintahnya tertuang dalam surat An Nuur ayat 32, yang terjemahannya kurang lebih sebagai berikut :

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (An Nuur : 32)

Selain itu, Rasulullah sangat menganjurkan pernikahan, bahkan kalau bisa jangan menunda-nunda pernikahan, seperti yang ada didalam haditsnya:

Hadis riwayat Abdullah bin Mas`ud ra.:
Dari Alqamah ia berkata: Aku sedang berjalan bersama Abdullah di Mina lalu ia bertemu dengan Usman yang segera bangkit dan mengajaknya bicara. Usman berkata kepada Abdullah: Wahai Abu Abdurrahman, inginkah kamu kami kawinkan dengan seorang perempuan yang masih belia? Mungkin ia dapat mengingatkan kembali masa lalumu yang indah. Abdullah menjawab: Kalau kamu telah mengatakan seperti itu, maka Rasulullah saw. pun bersabda: Wahai kaum pemuda! Barang siapa di antara kamu sekalian yang sudah mampu memberi nafkah, maka hendaklah ia menikah, karena sesungguhnya menikah itu lebih dapat menahan pandangan mata dan melindungi kemaluan (alat kelamin). Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penawar bagi nafsu. (Shahih Muslim No.2485)

Hadis riwayat Anas ra.:
Bahwa beberapa orang sahabat Nabi saw. bertanya secara diam-diam kepada istri-istri Nabi saw. tentang amal ibadah beliau. Lalu di antara mereka ada yang mengatakan: Aku tidak akan menikah dengan wanita. Yang lain berkata: Aku tidak akan memakan daging. Dan yang lain lagi mengatakan: Aku tidak akan tidur dengan alas. Mendengar itu, Nabi SAW memuji Allah dan bersabda: Apa yang diinginkan orang-orang yang berkata begini, begini! Padahal aku sendiri salat dan tidur, berpuasa dan berbuka serta menikahi wanita! Barang siapa yang tidak menyukai sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku. (Shahih Muslim No.2487)

Rasulullah Saw bersabda kepada Ali Ra: “Hai Ali, ada tiga perkara yang janganlah kamu tunda-tunda pelaksanaannya, yaitu shalat apabila tiba waktunya, jenazah bila sudah siap penguburannya, dan wanita (gadis atau janda) bila menemukan laki-laki sepadan yang meminangnya.” (HR. Ahmad)

Kemudian untuk apa menikah?

Selain seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, tujuan untuk menikah adalah melengkapi hidup (sebagian bilang menguasai separuh agama, seperti dalam hadits berikut “Barangsiapa kawin (beristeri) maka dia telah melindungi (menguasai) separuh agamanya, karena itu hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi.” (HR. Al Hakim dan Ath-Thahawi)). Kemudian untuk menunaikan kewajiban sebagai orang yang masih mengaku Islam.

Tentu saja tujuan lain adalah untuk memperoleh keturunan. Loh, kalo memperoleh keturunan kan gak harus nikah? Iya, tapi legalitas dari keturunan kita nantinya gimana? Kalo menikah kan jelas, bapaknya siapa, ibunya siapa. Meskipun gak ada yang namanya anak haram, karena pada dasarnya setiap anak adalah suci di mata Allah, legalitas akan status sang anak akan sangat membantunya kelak dalam kehidupan selanjutnya, terlebih kalo ternyata yang lahir anak perempuan, sehingga kelak ketika dia akan menikah, jelas siapa walinya.

Dengan siapa kita menikah?

Sebenarnya ada banyak kriteria yang bisa dipakai untuk memilih pasangan hidup. Diutamakan seagama, meskipun tidak diharamkan bagi seorang laki-laki menikahi wanita dari Ahli Kitab (maksudnya mereka yang mempercayai kitabullah sebelum Al Qur’an (Injil, Taurat, Zabur)) seperti dalam surah Al-Maaidah ayat 5 : “Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi. “

Namun untuk menghindari pembahasan yang akhirnya jadi OOT dan lari ke kawin campur (di bahas lain waktu), saya beranggapan, sebaiknya memilih pasangan itu yang seagama. Sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya, Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia.” Muttafaq Alaihi dan Imam Lima.

Kriteria berikutnya, orang yang ingin dinikahi sebaiknya orang yang kita sukai, jangan menikah tanpa melihat terlebih dahulu wanita yang akan dinikahi itu. Rasulullah SAW mengajarkan cara-cara memilih pasangan, seperti yang tertuang dalam hadits berikut,

Dari Jabir bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu melamar perempuan, jika ia bisa memandang bagian tubuhnya yang menarik untuk dinikahi, hendaknya ia lakukan.” Riwayat Ahmad dan Abu Dawud dengan perawi-perawi yang dapat dipercaya. Hadits shahih menurut Hakim.

Atau hadits berikut,

Menurut riwayat Muslim dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bertanya kepada seseorang yang akan menikahi seorang wanita: “Apakah engkau telah melihatnya?” Ia menjawab: Belum. Beliau bersabda: “Pergi dan lihatlah dia.”

Kemudian wanita itu hendaklah sayang kepada kamu,

Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan kami berkeluarga dan sangat melarang kami membujang. Beliau bersabda: “Nikahilah perempuan yang subur dan penyayang, sebab dengan jumlahmu yang banyak aku akan berbangga di hadapan para Nabi pada hari kiamat.” Riwayat Ahmad. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.

Petunjuk-petunjuk diatas ditujukan untuk laki-laki, kemudian bagaimana dengan wanita? Apakah seorang wanita hanya pasrah menerima serta-merta pinangan laki-laki?

Menurut hemat saya, wanita harus diajak berembuk dalam masalah pernikahan ini. Wanita berhak menolak pinangan seorang laki-laki, dan penolakan ini hendaknya diucapkan dengan jelas, karena diam dapat berarti iya.

Dalam dua hadits terpisah Rasulullah SAW bersabda,

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Seorang janda tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diajak berembuk dan seorang gadis tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta izinnya.” Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana izinnya? Beliau bersabda: “Ia diam.” Muttafaq Alaihi.
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa ada seorang gadis menemui Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam lalu bercerita bahwa ayahnya menikahkannya dengan orang yang tidak ia sukai. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memberi hak kepadanya untuk memilih. Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah.

Sebenarnya masih sangat banyak ajaran-ajaran Rasulullah tentang pernikahan, namun tentu akan sangat panjang jika dibeberkan disini.

Mudah-mudahan apa yang sedikit ini dapat menambah pengetahuan kita dan memantapkah hati dan niat kita untuk menikah dan membangun rumah tangga jika tiba pada waktunya kelak. Mohon maaf apabila ada kesalahan, sesungguhna kebenaran itu datangnya dari Allah SWT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: