Skip navigation

Langkahku ragu untuk mendekati gadis itu, masih dibawah temaram lampu di arena permainan bilyar, perlahan ku dekati. Tak lebih dari lima langkah lagi aku berhadapan dengan dia wajah itu semakin jelas, ternyata bukan Lisa, cuma seseorang yang mirip dengannya. Kepalang tanggung aku terus melangkah. sampai akhirnya, dengan basa-basi aku berkenalan. Namanya Wulan, anak kampus tetangga.

Aku kembali dan Marwan masih menunggu, sambil tersenyum aku menjelaskan kalau dia bukan Lisa, dan kemudian kami meneruskan permainan. Kali ini aku sudah kembali ke “form” dan konsentrasikupun tertuju pada bola-bola 1 sampai 9 yang ada di meja. Tak terasa kami sudah menghabiskan hampir 3 jam bermain bilyar, tak terhitung berapa batang rokok yang sudah kami hisap. Akhirnya, kamipun menyelesaikan permainan. Selesai membereskan pembayaran kami beranjak pulang dan makan malam di Selasih. Aku berinisiatif untuk mengajak beberapa kawan dan akhirnya, kami berlima, aku, Marwan, Luthfi, Gigin dan Rustam, teman satu kampus namun berbeda jurusan pergi ke Selasih.

Seperti biasa, kami berlima adalah orang yang paling ramai ditempat itu, berkelakar, bercanda, saling mengejek. Sambil menikmati pesanan masing-masing, kami memperhatikan satu-persatu pengunjung yang datang. Browsing, kalau menurut istilah Gigin. Sesekali celetukan keluar dari mulut kami, bila ada cewek cakep yang datang.

Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, kamipun beranjak pulang. Aku dan Gigin satu kost, sedangkan Marwan, Lutfi dan Rustam tinggal di daerah yang berdekatan. Aku dan Gigin diantar Marwan pulang terlebih dahulu, lepas menurunkan kami di depan kost, mereka pun pergi.

Satu minggu berlalu sejak aku bertemu dengan Iin di KA Parahyangan. Sampai suatu ketika secara tidak sengaja ketika aku sedang menunggu angkot di Tubagus Ismail kami bertemu. Kebetulan, dia juga sedang menunggu angkot ke RS Hasan Sadikin.

“Hi Gun…”
“Hi In… Mau ke Kampus?”
“Ngga, mau ke RSHS, ada janji sama temen disana. Lo mau ke kampus?”
“Iya, ada kuliah sekalian mau ngerjain tugas. Elo masih nyimpen nomor HP gue kan?”
“Masih, emang kenapa?”
“Gak kenapa-kenapa, kali aja elo mau SMS atau nelpon gue gitu…”
“Yeee, GR…”
“hahahaha, bukan-bukan, maksudnya, gue boleh kan nelpon lo kapan-kapan?”
“Boleh…”
“Gak ada yang marah?”
“Kalo nelpon aja sih gak ada yang marah…”
“Kalo ngajak makan malam?”
“…”

Belum terjawab dan angkotpun tiba, didalam angkot sudah lumayan penuh, hanya cukup untuk satu orang lagi. Aku persilahkan Iin untuk duluan sambil memberi tanda dengan tanganku bahwa aku akan menelpon dia suatu saat nanti. Aku pun kembali menunggu, kali ini seorang diri. Untunglah tidak berapa lama ada angkot lain yang lewat. Aku pun naik dan sambil tersenyum simpul, “what a lame pick up line”, gumamku dalam hati saja. Bagaimanapun, aku memang berniat untuk menelpon Iin kok, dan aku merasa ada ketertarikan dalam diriku terhadap sosok Iin.

Aku turun dari angkot dan melangkahkan kaki menuju kantin, kali ini bukan di GKU lama, aku kepingin makan Nasi Soto di warung jurusan TI. Sudah terkenal seantero FTI kalo ada Nasi Soto yang lumayan enak dan bisa delivery order. Tinggal SMS si penjual yang dikenal dengan Warsito, entah memang namanya atau kebetulan singkatan dari Warung Nasi Soto. Aku pesan Nasi soto plus baso dan segelas Teh Manis, harganya tidak lebih dari Rp 5000. Banyak juga yang mengantri dan sebagian sedang menikmati Nasi Soto, Mie baso atau beragam hidangan lain yang disediakan oleh warung kecil itu. Sementara Warsito baru saja kembali dari mengantar pesanan anak-anak teknik kimia.

“Gun, baru nyampe?”
“Iya nih To, pesan Nasi Soto plus baso sama es teh manis ya… trus lo anter ke kursi deket Tekim, gue tunggu disana.”
“Sip, beres…Piala Champion besok pegang mana?”
“Biasa, Inter Milan donk! taruhan kita?”
“Boleh, 50-50 deal?”
“deal!”

Warsito, dia selalu saja mengajak aku taruhan setiap ada pertandingan liga champion, sekedar obat ngantuk kalo kata dia. Aku melangkah menuju kursi dekat Himpunan Mahasiswa Teknik Material yang letaknya bersebelahan dengan Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia. Tempat yang sangat strategis karena berseberangan dengan Himpunan Mahasiswa Biologi serta Himpunan Mahasiswa Geofisika dan Oceanografi, kedua jurusan ini terkenal dengan mahasiswi-mahasiswi yang cakep-cakep. Sekalian cuci mata lah.  Beberapa rekan seangkatan lewat dan kamipun bertegur sapa sewajarnya.

Tak lama pesananku pun tiba, aku menyerahkan selembar lima ribuan dan warsito kembali melangkah mengantarkan pesanan yang lain. Aku makan sambil sesekali mengedarkan pandangan “browsing” ke arah anak-anak biologi.

bersambung

One Comment

  1. wa mana niy kelanjutannya..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: