Skip navigation

sambungan dari barcode…

Diantara cahaya lampu yang temaram, ku tatap lekat-lekat wajah itu, tak salah lagi dia Lisa, seseorang yang pernah mengisi hari-hariku beberapa tahun yang lalu, setidaknya hingga saat kami berdua mulai kuliah di ITB. Sedang apa dia di Bandung? Bukankah kabar terakhir dia di Singapura, karena dia mendapat beasiswa di NUS dan meninggalkan ITB? Atau kuliahnya sudah selesai di Singapura dan memutuskan kembali ke Indonesia? Ah gak mungkin, itu kan baru 3.5 tahun yang lalu. Atau dia sedang liburan, tapi liburan di Bandung? Bukankah orang tuanya di Jakarta?

Lamunanku buyar saat Marwan memanggil,
“Gun, giliran lo nih…”

Aku pun meraih tongkat panjang itu dan mulai mencari sudut yang tepat untuk memasukkan bola nomor 4 ke lubangnya. Rupanya Marwan berhasil memasukkan 4 bola, 6 saat break, 1, 2 dan 3 berutan, namun gagal memasukkan bola nomor 4. Aku ayunkan tongkat pemukul bola itu, namun bola itu hanya mengenai tepi lubang kemudian mental keluar, gagal. Ah rupanya konsentrasiku terganggu oleh wajah tadi.

“Ada apa Gun? Gak biasanya…”
“Gak, gak napa-napa kok Wan, cuma gue seperti ngeliat cewe yang gue kenal…”
“Siapa Gun?”
“Lisa…”
“Lisa mantan lo dulu itu? Bukannya dia di Singapura? Ah ngayal aja lo…”

Marwan melanjutkan permainan, sementara aku tetap termenung, teringat apa yang telah berlalu.

Bandung, Agustus, 3.5 tahun yang lalu…

Ribuan orang datang hari itu, bapak, ibu dan anak-beranak, bahkan ada yang membawa nenek, kakek, paman dan bibinya. Ya, mereka adalah calon mahasiswa baru ITB bersama keluarga yang mengantar untuk mendaftar sebagai mahasiswa. Spanduk bertuliskan “Selamat datang putra-putri terbaik bangsa” menyambut bangga di Ganesha Boulevard. Aku salah satu dari ribuan anak baru itu, setelah berjuang, bersaing dengan puluhan atau bahkan ratusan ribu lain anak bangsa yang memperebutkan kursi di berbagai universitas di seantero negeri. Aku diterima di kampus ini, ITB, jurusan mesin. Aku bersama dengan para calon mahasiswa yang lain, antri, menyiapkan semua berkas, dan mendapat nomor induk mahasiswa. Awal dari langkah baru menuju suatu yang lebih baik.

Aku bersama orang tuaku waktu itu, juga adikku Mayang, mereka menunggu dengan wajah sumringah di depan GSG. Adikku asik bermain sendiri, maklum masih duduk di kelas 6 sekolah dasar dia. Selesai pendaftaran aku hampiri mereka yang tampaknya sedang berbicara dengan orang tua mahasiswa yang lain. Kuperhatikan seorang gadis manis, sebayaku, ada diantara mereka. Aku yang baru datang pun diperkenalkan.

“Ini putra kami, Igun, diterima dijurusan mesin…”
“Igun Oom, Tante…”
“Gun, ini Oom Tedjo dan Tante Wiwiek, tadi Mama dan Papa ngobrol waktu nunggu kamu…”
“Iya, kami mengantar Lisa, dia diterima di jurusan Teknik Kimia…”
“Igun…”
“Lisa…”

Awal pertemuan aku dan Lisa, hari-hari selanjutnya kami pun mulai sering bersama, pulang kuliah, makan, nonton. Dan seperti yang sudah ditebak, kami pun mulai pacaran. Hari-hari itu berjalan dua bulan lamanya, ya, meskipun baru dua bulan, namun kami cukup dekat. Apalagi kedua orang tua yang sudah sama-sama kenal.

Sampai, berita itu aku terima dari mulut Lisa sendiri, kalau dia harus meninggalkan ITB dan pindah ke NUS, karena mendapat beasiswa untuk kuliah disana. Aku terdiam, hanya diam, tak mampu berkata apapun. Aku tak bisa melarang, karena toh ini adalah keinginannya, lagipula siapa aku yang berani melarang anak orang untuk mengejar mimpinya? Meski dengan berat hati aku melepaskan kepergian Lisa, dan kami pun mulai menjalani hubungan jarak jauh yang aku belum pernah menjalani sebelumnya. Waktu itu belum terpikir apa yang akan terjadi.

Singapura, dua bulan kemudian…

Aku berjalan melewati pertokoan di Orchard Rd, hanya bisa melihat, tak mampu membeli, maklum mahasiswa yang bermodalkan beasiswa untuk sekolah di sini. Aku sendirian, menghilangkan rasa kesal yang ada di dalam hati. Kesal karena baru saja aku dan Igun berantem, lagi. Ya, aku baru dua bulan disini, tak terhitung berapa kali kami berantem, marah, ngambek. Entah lewat telpon, sms, email, kami memang belum siap untuk long distance relationship. Ku telpon Sherly, teman sekamarku di asrama. Mengajak dia pergi, mungkin ke Clarke Quay atau Esplenade, sekedar untuk curhat dan menangis. Hanya dia yang mengerti aku, maklum kami berdua menghabiskan malam-malam kami bersama di kamar asrama mahasiswa ini.

“Sher, apa gue putus aja ama Igun ya?”
“Kalo emang itu yang paling baik buat kalian berdua, gak usah dipaksain lah…”
“Abis gue capek Sher, tiap nelpon pasti berantem. SMS gue gak dibales. Apa gue yang terlalu posesif ya?”
“Ya wajar sih, habis kalian baru dua bulan jadian, eh harus LDR. Pertama kali LDR kan kalian berdua?”
“Iya… dan kayaknya gue gak bisa deh kayak gini terus…”

Akhir dari percakapan aku dan Sherly malam itu, selanjutnya kami hanya termenung, di Esplenade, sambil memandang jauh ke arah patung Merlion dengan latar belakang gedung pencakar langit Singapura. Malam itu cerah, bintang pun seolah tak perduli dengan aku yang masih belum tahu bagaimana mengucap kata berakhir ke Igun. 

Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, aku dan sherly tiba di asrama. Aku keluarkan ponsel dan calling card, menekan angka-angka di keypad. Memasukkan kode yang tertera di calling card itu kemudian menekan nomor handphone Igun. Setelah tersambung, kemudian panjang lebar aku mengemukakan semua alasan, akhirnya aku dan Igun putus hari itu. Aku sedih, tapi lega, aku bisa mulai fokus dengan diriku sendiri dan kuliahku, tanpa ada keharusan untuk telfon tiap minggu, atau terima telfon disela-sela aku belajar atau pergi bersama teman-teman.

 “Gun, Igun…Woi!! Gun!! Yah, ngelamun lagi…”
“Iya, Wan, sorry… giliran gue ya?”
“Mau main apa ngelamun?? Iya giliran lo, break… tadi gue yang menang…”
“Bokis lo!”
“Itu udah abis lagi bolanya…”

Vivin aku panggil, untuk menyusun bola diatas meja, aku pun break untuk frame kedua. Aku berhasil memasukkan bola 2, kemudian bola 1 terhalang oleh bola nomor 6. Dan cue ball berada diujung meja. Benar-benar posisi yang susah. Aku paksakan dengan memantulkan cue ball ke tepi meja, namun sayang, pantulannya tidak mengenai bola 1 melainkan bola 7 yang berada sedikit ke kiri dari bola 1. Wawan kembali meledekku, “makanya, jangan ngeliatin cewe mulu, samperin sana kalo emang penasaran…”

Aku pun tersenyum kemudian duduk kembali, mataku kembali teralih ke arah gadis itu, dan sekali lagi mata kami bertemu. Rasa penasaran mendorongku untuk menemui gadis itu. Aku pun bangkit dari kursi dan mulai berjalan ke arah dia.

bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: