Skip navigation

sambungan dari Indah Sri Pramesthi

“Gak usah deh Gun, udah deket kok dari sini…”
“Oh, ok… hati-hati, sampe ketemu lagi kapan-kapan…”

Eh sebelumnya, maaf, bukan maksudku mau langsung nyosor aja gitu. Cuma ya kayak kebiasaan aja. Nawarin bantuan, mencoba menjadi lebih baik. Kalo yang dibantu bersedia, ya hayuk, kalo ngga ya gak apa-apa no harm done by asking anyway.

Uh, akhirnya sampe juga di kamar kost, ya gak terlalu besar sih, dan sedikit (??) berantakan, cukup buat mahasiswa. Ada komputer di pojok sana (yang kebanyakan dipake buat maen game daripada bikin tugas apalagi skripsi), meja tv plus dvd player dan playstation, lemari, tempat tidur (lebih tepatnya kasur, karena ditaruh aja gitu dibawah), rak buku, dan semacam lemari pajangan memorabilia.

Melihat jadwal kuliah besok, kayaknya gak ada yang harus bikin buru-buru ke kampus. Kuliah dari jam 11 siang sampe jam 3 sore, 2 mata kuliah, yang satu diantaranya mengulang. Mencoba untuk memperbaiki IP yang standar-standar saja itu. Sekarang rebahan dulu sebentar nyalain tv, kalo gak salah ada tayangan sepakbola langsung. Ooops, hampir lupa. Belum makan malam, duh capeknya, kenapa tadi gak sekalian beli di jalan aja. Kan ada warung makan di gang VIII.

Aku keluar, mencari bibi yang mengurus kostan ku ini, minta tolong dibelikan makanan, entahlah masih ada yang buka atau tidak. Kalau terpaksa ya nasi goreng atau mie instan. “Bi, bibi…”
“Ya Mas Igun, ada apa?”
“Bisa minta tolong belikan makan malam?”
“Iya, bisa, beli makanan dimana? Mau lauknya apa?”
“Di warung makan di gang VIII aja, pake ayam goreng, kalo gak ada ya belikan pecel ayam aja yaa, kalo gak ada juga, beli Indomie goreng sama telur, tapi nanti tolong dimasakin ya Bi?”
“Iya Mas…”

Untungnya ada si Bibi yang bisa dimintain tolong. Gak lama kemudian si Bibi pulang membawakan aku pecel ayam yang sudah ditaruh di atas piring. Aku makan dengan lahapnya, bukan karena enak, lebih karena lapar. Selesai makan, aku kembali duduk nonton tv, dan gak lama kemudian tiduran dan tanpa sadar terlelap, untungnya kost-an ku ini bentuknya seperti rumah, bukan yang kamar-kamar lepas. Jadi pintu depan itu selalu terkunci dan ada yang jaga, kalau ada penghuni yang ingin masuk mereka punya kunci masing-masing.

Waktu menunjukkan jam 8.30 pagi, aku terbangun tadi jam 5, untuk sholat subuh, tapi kemudian tertidur lagi. Ah, tukang bubur ayam lewat, lumayan ada sarapan. Masih banyak waktu sebelum berangkat ke kampus. Santai dulu menikmati sarapan kemudian mandi, baru ke kampus.

Jam 10 aku berangkat ke kampus, nunggu angkot berwarna biru itu, lima menit kemudian angkot itupun datang, sayang sudah penuh. Akhirnya aku jalan menyusuri Jalan Tubagus Ismail sambil menunggu angkot lain yang lewat. Ternyata sampai di Simpang, tak adalagi angkot itu. Karena sudah tanggung, akhirnya aku putuskan untuk jalan sampai ke kampus. Lewat pasar simpang yang becek dan tumpah ruah mengambil separuh jalan raya Juanda. Aku sengaja lewat (yang semestinya) trotoar meskipun sempit dan dipenuhi barang dagangan, mulai dari buah-buahan sampe sisir dan mainan anak.

Sampai di kampus, aku melihat pengumuman, ternyata kuliah hari itu antara jam 1 sampai jam 3 dibatalkan, kemana lagi si Bapak ini. Ah, sudahlah, tak mengapa. Aku nanti bisa jalan ke BIP atau main bilyar di Barcode. Di kanting GKU lama aku lihat Marwan sedang menunggu kuliah sambil minum kopi. Dia adalah teman satu angkatan sekaligus teman gila-gilaan bareng.

“Wan, ada kuliah nanti jam 1?”
“Gak ada tuh, kenapa Gun?”
“Bilyar yuk di Barcode…”
“Boleh, ya udah, abis kuliah ini yaa…”
“Sip, yuk masuk…”

Selesai kuliah jam 1, makan siang di kantin GKU sambil ngeliat anak-anak baru hehehe biasa, mata kuliah wajib di kantin GKU lama, ngeceng anak baru. Selesai makan, aku dan Marwan jalan ke parkiran, iya Marwan dapet fasilitas mobil dari orang tuanya di Jakarta, lumayanlah bisa nebeng. Dari kejauhan kulihat Bang Ogi, sambil mengacungkan majalah F1 terbaru, aku cukup melambai tanda gak sekarang sambil berjalan ke arah mobil Marwan.

Barcode, tempat biasa aku, Marwan dan beberapa anak-anak mesin yang lain menghabiskan waktu dan uang saku sambil bermain bilyar. Letaknya yang dekat dengan kampus menjadikan tempat ini tempat favorit kami. Aku sampai kenal dengan beberapa pelayan dan bartender disana.

Antrian tidak begitu panjang hari itu, dan 5 menit menunggu, kami pun dapet meja. Aku dan Marwan bermain seperti biasa, 9 ball. Marwan memulai break, dan akupun memanggil Vivin, pelayan di tempat itu untuk memesan minuman. Sambil kuperhatikan sekeliling sampai akhirnya mataku tertumpu pada sesosok wajah yang aku kenal. Dan wajah itupun merasa kalau aku sedang memperhatikan dan mulai mencari-cari. Sampai akhirnya mata kami beradu pandang.

bersambung…

One Comment

  1. woo-hoo, iin ya?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: