Skip navigation

Sambungan dari “namaku Igun

Tertera sebuah nama dilayar ponselku, “Indah (Iin)”, gadis yang tadi bertengkar rebutan kursi di KA Parahyangan

“Halo…”
“Halo Igun, gimana disitu?”
“panas, tapi lumayan bisa ngerokok, ada apa?”
“Ini, ternyata kursi sebelah gue kosong. Jadi kalo mau duduk, bisa…”
“Oh, ya udah, nanti gue duduk disitu, ini mau ngabisin rokok dulu sebatang. Thanks ya…”

Lima menit kemudian sebatang gudang garam filter pun habis, yup rokok yang tidak umum buat anak kuliahan, biasanya marlboro atau sampoerna demi menjadi anak gaul. Bagiku, garpit lebih enak, selain itu kalo mau beli ketengan ketika duit pas-pasan gampang tinggal ke rombong rokok seberang jalan, pasti bisa. Dan kabarnya asap rokok yang kuhisap perlahan akan menggerogoti paru-paru ini. Ah, susahnya menghentikan kebiasaan ini.

Selesai merokok, aku ke toilet, menyemprotkan penyegar nafas yang selalu kubawa di kantong, mengingat kebiasaan merokok ini baunya sungguh mengganggu. Aku melangkah menuju kursi di sebelah Iin, kursi dekat lorong, bukan jendela.

“Hi…”
“Hi, sorry soal tadi ya…”
“Gak apa-apa…”
“Kuliah?”
“Iya… Iin kuliah juga?”
“Iya, di UNPAD, FKG…”
“Oh, gue di ITB, Mesin…”

Selepas itu diam… sampai akhirnya aku ingin merokok serta ke toilet lagi, dan mengganggu dia yang sedang asik membaca majalah wanita.

“Kost di mana?”
“Di Sekeloa, lo di mana Gun?”
“Tubagus…”

dan percakapanpun berlanjut…

Selanjutnya baru aku ketahui lebih tentang Iin…

Namanya, Indah Sri Pramesthi, dari Jakarta, tapi orang tua aslinya Solo. Ternyata satu angkatan dan kita seumuran, kostnya dia ternyata tidak terlalu jauh dari tempat kost ku. Anak pertama dari dua bersaudara, adiknya laki-laki masih SMA. Tinggal di daerah selatan Jakarta (ingat, selatan Jakarta, bukan Jakarta Selatan!), tapi tidak jauh dari rumahku di Jakarta Selatan. Tidak terasa tiga jam lebih kami berada di KA Parahyangan dan kereta pun mulai memasuki St. Hall (bacanya bukan Saint Hall, tapi Stasiun Hall). Karena kami searah jadi kamipun naik angkot yang sama. Kami berjalan menuju tempat menunggu angkot (bukan halte, karena halte merupakan barang langka).

Menunggu 15 menit, angkot pun datang. Berwarna biru, jurusan Sadang Serang. Tidak banyak kami bercakap diperjalanan dengan angkot itu, suara kami kalah dengan teriakan sopir angkot yang berhenti setiap melihat ada orang berdiri di pinggir jalan. Dan apabila ada penumpang yang naik, dengan logat batak yang khas dia mencoba berbahasa sunda, “ka lebeut teh… geser…. geser…” masih dengan logat bataknya.

Dalam angkot yang cukup sempit, kami berdesakan dengan penumpang lainnya. Ugh, welcome to Bandung… lebih dari setengah jam kami di dalam angkot, dan tibalah di Jalan Tubagus Ismail. Kami berduapun turun, karena jalan yang menuju kost Iin berada diseberang jalan yang menuju ke kost ku.

“Mau gue temenin ke kostan? Udah lumayan gelap…”

bersambung

One Comment

  1. hmm, secara si iin ini mantan pacar igun, so we basically know that they’re gonna end up together.. and it’s too easy if igun langsung nemenin ke kost.. so u might as well put some spice in it and make iin nolak dulu, so igun usaha lagi deh, hehe..

    bo, gue kenapa ngomongnya kaya cinta laura gini ya??


One Trackback/Pingback

  1. By barcode… « my working week, my sunday rest on 15 Mar 2008 at 11:55 pm

    […] Maret 15, 2008 barcode… Posted by arisaja under cerita   sambungan dari Indah Sri Pramesthi […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: