Skip navigation

“Penyesalan gak pernah dateng duluan”

“Ah, seandainya saya tidak melakukan ini, pasti…”

Pernah mendengar hal tersebut? Pernah merasa demikian? Saya rasa semua orang pernah menyesal. Termasuk saya…

Tapi saya sekarang ingin hidup tanpa penyesalan, mungkinkah?

Hidup ini penuh dengan pilihan, mau tidak mau kita harus memilih, tanpa tahu apakah pilihan ini benar atau salah sebelumnya. Memilih, itu harus!

Karir, jodoh, makan, minum, bahkan untuk tetap hidup pun merupakan sebuah pilihan. Pilihan yang benar-benar menentukan hidup saya, saya terima pertama kali ketika saya baru saja beranjak remaja. Ayah saya, ingin saya mengikuti jejaknya dengan harapan suatu hari saya dapat melanjutkan usaha yang dirintisnya. Beliau ingin saya meneruskan ke sekolah kejuruan daripada sekolah umum. Pilihan saya justru sekolah umum, karena cita-cita saya adalah menjadi apa yang saya inginkan (waktu itu jadi dokter), bukan untuk mengekor apalagi meneruskan usaha orang tua saya. Tentu saja kekecewaan tampak pada wajah orang tua saya. Saya menyesal? Tidak tahu, waktu itu belum mengerti arti penyesalan sebenarnya, mungkin kalo saya liat sekarang, menyesal karena telah mengecewakan ayah saya. Tapi saya liat sisi baiknya, saya ada disini sekarang, yang belum tentu tercapai jika saya mengikuti saran ayah saya.

Waktu di bangku kuliah juga demikian, saya merasa salah pilih jurusan (saya kuliah teknik, padahal dulunya pengen jadi dokter). Kuliah kok kayaknya susah banget, rumus-rumus njelimet saya hadapi setiap saat, saya rasanya menyesal kuliah di kampus dan jurusan ini. Tapi, saat saya bilang sama ayah saya, kalau saya ingin pindah jurusan ke kampus sebelah. Beliau cuma bilang, hadapi saja, tekuni, hambatan itu datangnya dari diri kamu, bukan kuliah-kuliah kamu, bukan rumus-rumus itu, bukan teks book yang setumpuk. Saya rasa beliau benar, empat tahun kemudian saya lulus juga, tidak masuk kategori cum laude sih, ya pokoknya lulus lah. Dan berkat itu juga saya bisa ada di sini, coba kalo saya pindah jurusan, bisa jadi saya malah ada di daerah terpencil, memulai karir jadi dokter.

Lulus kuliah, seperti biasa, susahnya cari kerjaan… Saya lagi-lagi dihadapkan dengan pilihan, terus berusaha cari pekerjaan, atau meneruskan usaha ayah saya sambil memelihara kolam ikan di belakang rumah? Saya bilang sama ayah saya kalau saya susah dapet pekerjaan dan ingin belajar meneruskan usaha beliau. Beliau cuma tersenyum sambil berujar, buat apa kamu sekolah susah-susah, belajar rumus njelimet kalo cuma meneruskan usaha ini yang cuma butuh tambah, kali, bagi, kurang? Lagi-lagi beliau benar, dan saya akhirnya bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. Coba kalau saja saya berhenti mencari kerja dan meneruskan usaha ayah saya, mungkin saya tidak berada disini.

Ya, kita tidak tahu apakah pilihan itu benar atau salah, sampai kita menjalaninya. Tapi ada suatu tools yang diberikan oleh Tuhan yang Maha Kuasa untuk menilai suatu pilihan, yaitu nalar dan naluri. Maksimalkan tools ini, maka tidak ada lagi pilihan benar atau salah. Kalaupun salah, pasti kita sudah prepare dengan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi, sehingga rasa penyesalan itu bisa berkurang atau bahkan hilang. Do the best, but prepare for the worst…

Tapi ada downside dari pemikiran ini, yaitu, rasa takut gagal, bagaimana jika saya malah jadi sengsara, bagaimana jika, dan banyak bagaimana jika yang lain. Terlalu banyak pertimbangan yang akhirnya menjadikan kita untuk takut melangkah. Lalu? Lalu bagaimana maksudnya? Ya, sekali lagi, kita punya nalar dan naluri. Kalau dirasa belum cukup yakin ya, lakukan analisa resiko. Plus dan minus, lebih banyak mana, hasilnya bagaimana? Kalo positif, selamat, anda jadi bapak! Paling tidak anda yakin dengan pilihan anda, dan dengan keyakinan itu saya jamin, anda tidak akan menyesal walaupun pilihan anda salah.

Dan satu lagi, setiap pilihan ada hikmah yang bisa diambil, berfikir dari sisi positif, saya tahu ini susah dilakukan dan dibutuhkan perasaan yang ikhlas, karena menjadi positif berarti anda bersiap dengan sikap anda yang harus tetap positif atas apapun yang terjadi. Menjadi positif bukan berarti menerima saja apa yang terjadi, sama sekali tidak. Kalau anda tidak bisa merubah kondisinya, anda bisa merubah sikap anda dalam menyikapi situasi yang ada. Pokoknya sifat positif harus dibarengi dengan perilaku positif juga. Jangan anda kemudian menerima dan cuma menerima, you become a loser my friend. Anda tidak mengambil hikmah artinya. Wah saya sudah ngelantur ya? Maaf, bukan maksud untuk ngelantur dan menggurui. Cuma tumpahan pemikiran saja. Berbagi dengan anda semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: