Skip navigation

*ring tone*
look at what happens to me, I can’t believe it myself.. Suddently I’m on top of the world…

*opening greatest american hero*

+62217135521

Tertera sederet angka di ponselku, biasanya aku tidak begitu bersemangat menerima telfon dari nomor yang tidak ku kenal, kecuali panggilan wawancara yang sedang kunantikan, yang nomornya pastinya bukan nomor itu. Ku perhatikan sejenak nomor yang tertera, masih daerah tempat tinggalku. Siapa ya? Setahuku tak banyak orang sekitar rumahku yang tahu nomor telfon ini.

“Halo…”
“Halo, Gun…”
“Siapa nih?”
“Ratih, temen SMA lo Gun, eh bener kan ini Igun?”
“Hmm, Ratih yang rumahnya di Jalan Karet?”
“Iya, apa kabar Gun? Udah lulus ya?”
“Baik-baik aja tih, iya baru aja lulus minggu lalu. Sekarang lagi sibuk ngirim lamaran pekerjaan kemana-mana. Dapet nomor hp gue darimana?”
“Dari Iin, mantan lo..”
“Loh kok bisa kenal sama Iin?”
“Iya, Iin kan anaknya Om Danu, teman kantor bokap gue..”
“Owh, oke… ada apa ya?”
“Gini, gue butuh bantuan nih.. Hari Minggu ini ada di Bandung atau Jakarta?”
“Sekarang gue di Bandung, besok itu rencanya mau mindahin barang-barang ke Jakarta, kayaknya sih udah di Jakarta minggu besok.”
“Wah, kebetulan kalo gitu. Minggu ini gue merit, elo dateng yaa.. “
“Selamat ya Tih, iya gue dateng, paling nanti sama Iin.. ‘
“Iya, Iin gue undang juga kok…”

Eh iya, sebelumnya perkenalkan, aku Igun, nama lengkap GUNADHARMA SANJAYA, tidak ada hubungan dengan salah satu lembaga pendidikan, apalagi kekerabatan dengan sang empunya. Igun, lebih mudah dan simpel untuk diingat. Gak keberatan nama, kalo kata orang dulu sih. Baru aja lulus dari salah satu perguruan tinggi teknik negeri di kota Bandung (alaaah Gun, sebut aja ITB gitu, gak usah pake sok disembunyiin). Sekarang resmi jadi orang yang menambah jumlah pengangguran di republik ini. Kesibukan, sejak resmi lulus minggu lalu, pekerjaan saya adalah tukang bikin repot pak Pos, penjaga warnet dan tentu saja petugas administrasi di BAA dan CDC. Alias pencari kerja. Ternyata, meskipun sudah menyandang gelar S.T dari perguruan tinggi ternama, gak jadi jaminan langsung cespleng dapet kerjaan😦. Sekarang lagi beberes di kamar kost, mau kembali ke Jakarta besok, karena masa kontrak sudah habis di Bandung. Tapi bukan karena itu sih, kontrak terpaksa tidak diperpanjang lagi, karena “Igun, kapan kamu lulus? Cepet selesaikan kuliahnya! Ayah pengen kamu wisuda semester ini!” (bokap, 6 bulan lalu…)

Nah, lagi asik beres-beres tadi, tiba-tiba ada telpon dari Ratih, ratih itu temen sekolah dulu, rumahnya gak terlalu jauh dari rumah ku di Jakarta, paling kalo naik metro mini, cuma 10 menit tanpa harus ganti. Dulu kami sering pulang bareng, main bareng, ya karena memang deketan rumahnya dan satu sekolah. Sudah mau nikah dia? Kalo diinget, aku pernah jatuh hati sama Ratih, dia manis, baik, lucu dan anaknya bisa dibilang lugu. Cuma aku gak berani buat bilang kalo aku suka sama dia. Kuambil ponselku, dan ku cari nama itu, IIN. INDAH SRI PRAMESTHI, anak Pak Danudirjo Prabantyo. Mantan pacar, anak kedokteran gigi UNPAD, mungkin sekarang sedang PTT (atau apapunlah namanya). Yang anak ITB (dan Bandung paada umumnya), gak usah nanya, pasti udah tahu. Udah tahu kalo misalnya anak FKG UNPAD itu ada kliniknya di Sekeloa, dan pelanggannya sebagian besar anak ITB! Hayo, yang anak ITB ngaku! Tapi gue kenal Iin, bukan karena itu, tapi karena hal yang lebih klise lagi, tempat duduk yang sama di kereta Parahyangan. Waktu itu, CIPULARANG belum ada, jadi angkutan favorit anak Jakarta yang kuliah di Bandung ya KA Parahyangan, berhubung biasanya kalo akhir pekan dan hari Senin itu rame banget, jadilah calo merajalela. Aku orang yang paling benci sama calo, jadi ngantri atau pesan beberapa hari sebelumnya (yang ini minta tolong sama bunda! Love you bun… tentu saja bukan bundaku yang pergi tapi sopir kantornya). Terjadilah pertengkaran hebat waktu itu, rebutan kursi (macam anggota DPR aja rebutan kursi), akhirnya kalo kata bung SeIs, sing waras ngalah, ngalah lah saya dan ya cari tempat lain.
“Oke, mbak gak usah emosi, saya cari tempat lain, siapa tahu nanti ada yang kosong, tapi saya titip tas saya disini ya, saya berdiri dulu di lorong, lewat jatinegara saya cari tempat.”
“ok, silahkan..”
“Nama mbak siapa dan nomor telponnya berapa? Biar nanti kalo tas saya hilang, saya tahu harus nuntut siapa…”
“Indah, panggil saja Iin… nomor telpon : 081348585975
“Igun, 0811911938′
Kutinggalkan tasku di bagasi (?) diatas kursi Iin, dan ku berjalan ke lorong bordes. Merokok, sambil melirik sesekali ke arah Indah, manis, cantik namun terkesan judes dan angkuh. ya, itu kan hanya sekilas saja. Perlahan kereta mulai berjalan, 10 menit kemudian memasuki stasiun Jatinegara. Penumpang yang menunggu dari Jatinegara mulai masuk, satu-persatu mengisi kursi sesuai dengan nomornya masing-masing. Ku perhatikan gerbong tempat aku tadi berselisih dengan Indah. Hmm tampaknya penuh… pasrah sudah, aku duduk di bordes saja.

Kereta perlahan meninggalkan stasiun Jatinegara, aku masih berdiri mematung memandang keluar jendela dari bordes. Bau pesing keluar dari WC kereta ini tak ku hiraukan, yang ada dikepalaku hanya rasa gondok.. 30 menit kemudian, ponselku berdering.

*ring tone*

look at what happens to me, I can’t believe it myself.. Suddently I’m on top of the world…

bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: