Skip navigation

Ketika ART kami yang sebelumnya mengundurkan diri karena ingin mengurus cucunya yang baru lahir, kami tidak dapat berbuat banyak, selain mencoba mencari penggantinya. Berbagai penyalur ART kami hubungi, begitu juga dengan kenalan, teman, keluarga, hasilnya nihil. Begitu sulitnya kah mencari orang yang jujur dan mau bekerja?

Sepulangnya saya dari terminal Lebak Bulus mengantar ART saya yang akan mudik dan tidak kembali, saya melewati perempatan, saya berhenti di lampu merah. Saya perhatikan dari kejauhan mendekat seorang perempuan, usianya mungkin sebaya dengan ART saya yang mudik, menjulurkan tangannya meminta-minta, menjadi pengemis…

Ada yang salah di sini, batin saya…

Saya mencari ART, syaratnya pun gak berlebihan, yang penting jujur dan mau bekerja, susahnya bukan main.

Sementara dilain sisi, ada orang yang memilih untuk menjadi pengemis.

Salahnya apa? Kok bisa? Apa karena menjadi pengemis mendapat penghasilan lebih tanpa harus bekerja keras? Lalu, harga diri apa kabar? Susahkah menjadi orang yang jujur bekerja?

Mungkin masalahnya bukan karena tidak ada pekerjaan, tapi memang tidak mau bekerja…

Sebentar lagi akan datang bulan Ramadhan, bulan dimana umat Islam akan menjalankan ibadah puasa. Penentuan awal bulan Hijriyah dilakukan dengan melihat posisi bulan terhadap matahari dan bumi. Ada dua cara menentukan posisi bulan, yang pertama dengan wujudul hilal (pembentukan bulan baru) seperti yang digunakan oleh Muhammadiyah, yang kedua dengan melihat terbentuknya bulan baru, digunakan oleh NU dan pemerintah.

Berikut perkiraan posisi bulan pada saat matahari terbenam dari tanggal 18 Juli hingga 20 Juli dan 17 Agustus hingga 19 Agustus. Pemerintah akan melakukan Rukyat pada tanggal 19 Juli untuk penetapan 1 Ramadhan dan 18 Agustus untuk penetapan 1 Syawal.

Jakarta

Juli 18
Matahari Terbenam pukul  17:52
Posisi bulan pukul 17:52:  tinggi      -10.2 derajat (dibawah ufuk)  posisi 288.1 derajat (dari arah utara searah jarum jam)

Juli 19

Matahari terbenam pukul 17:52,
Posisi bulan pukul 17:52: tinggi       1.7 derajat   (diatas ufuk)   posisi 286.3 derajat

Juli 20
Matahari terbenam: 17:52
Posisi Bulan:    tinggi  13.2  derajat, posisi 284.3 derajat

Kemungkinan terjadi perbedaan penetapan awal Ramadhan, yang menganut wujudul hilal, maka pada tanggal 19 Juli, bulan baru sudah terbentuk, sehingga sudah masuk tanggal 1 Ramadhan dan puasa hari pertama akan dimulai pada tanggal 20 Juli. Akan tetapi, jika dilakukan rukyat, hilal akan sulit terlihat karena posisi bulan yang rendah. Sehingga belum dapat dikatakan masuk tanggal 1 Ramadhan, oleh karena itu puasa hari pertama akan dimulai pada tanggal 21 Juli.

Agustus 17
Matahari terbenam pukul 17:53

Posisi bulan pukul 17:53: tinggi       -5.1 derajat (dibawah ufuk)       posisi 279.0 derajat

Agustus 18
Matahari terbenam pukul 17:53
Posisi bulan pukul 17:53:  tinggi 7.1 derajat (diatas ufuk)    posisi  275.7 derajat

Agustus 19
Matahari terbenam pukul 17:53
Posisi bulan pukul 17:53:  tinggi     19.4 derajat (diatas ufuk) posisi      272.0

Sedangkan untuk penetapan tanggal 1 Syawal, kemungkinan tidak akan terjadi perbedaan baik dengan wujudul hilal maupun rukyat. Menurut wujudul hilal, bulan baru akan muncul pada saat matahari terbenam tanggal 18 Agustus, yang artinya sudah masuk ke tanggal 1 Syawal dan tanggal 19 Agustus adalah Hari Raya Idul Fitri. Posisi bulan yang cukup tinggi pada saat dilakukan Rukyat pada tanggal 18 Agustus memungkinkan untuk hilal dapat terlihat, sehingga bulan baru dapat dipastikan dan sudah masuk tanggal 1 Syawal.

Untuk tahun 2012, kemungkinan terjadi perbedaan penetapan awal puasa antara Muhammadiyah dan pemerintah namun untuk 1 syawal kemungkinan besar jatuh pada hari yang sama.

Berhubung lagi hangat soal subsidi BBM, saya iseng membuat neraca BBM nasional. Lifting dan konsumsi (kuota) BBM subsidi (premium atau solar).

Lifting minyak Indonesia sebesar 950,000 barrel/day atau setara dengan 342,000,000 barrel/tahun dengan asumsi 360 hari kerja setahun.

Mari kita asumsikan kuota BBM subsidi (premium dan diesel) sebesar 50 juta kilo liter atau 314,465,409 barrel untuk tahun 2012. Sekilas terlihat bahwa produksi minyak nasional lebih tinggi dari konsumsi. Namun ada satu hal, yang kita produksi adalah minyak mentah dan untuk mendapatkan 1 liter bahan bakar secara rule of thumb membutuhkan 2 liter minyak mentah. Maka untuk mendapatkan 314,465,409 barrel bahan bakar, dibutuhkan 628,930,818 barrel minyak mentah. Dengan demikian terjadi kekurangan pasokan minyak dari dalam negeri sebesar 286,930,818 barrel. Untuk mengatasi kekurangan pasokan ini maka dilakukan impor minyak mentah.

Sekarang mari kita masukan angka tersebut dan harga minyak dalam perhitungan.

Asumsi yang saya gunakan dalam perhitungan ini sebagai berikut:

Harga ICP = 105 USD/bbl
Harga jual BBM subsidi = 4500 IDR/ltr
Harga minyak mentah impor = 95 USD/bbl
1 USD = 9000 IDR
Penerimaan negara dari hasil penjualan minyak mentah sesuai harga ICP

342,000,000 bbl x 105 USD/bbl = 35,910,000,000 USD = 323,190,000,000,000 IDR

Kemudian neraca jual beli minyak mentah dan BBM subsidi dari Pertamina:

Pemasukan
Penjualan BBM subsidi sesuai kuota 50,000,000,000 liter x 4500 IDR/ltr = 225,000,000,000,000 IDR
Pengeluaran
Beli crude lokal 342,000,000 barrels x 105USD/bbl = 35,910,000,000 USD= 323,190,000,000,000 IDR
Beli Crude impor 286,930,818 barrels x 95 USD/bbl = 27,258,427,673 USD 245,325,849,056,604 IDR

Dari perhitungan diatas maka pendapatan pemerintah dan Pertamina dari jual beli minyak mentah dan BBM subsidi adalah sebesar -20,325,849,056,604 IDR. Perhitungan diatas belum memasukan biaya distribusi, lifting dan pengolahan.

Loh kok Pertamina harus membeli minyak dalam negeri sendiri? Baiklah, anggap saja minyak dalam negeri diberikan gratis oleh negara untuk kemudian diolah dan dijual oleh pertamina sebesar IDR 4500/ltr. Berarti pemasukan negara dan pengeluaran pertamina dari jual beli minyak ini juga nihil. Hasil perhitungan akan memberikan defisit yang sama.

Kok hasilnya beda dengan hitungan Kwik Kian Gie? Ya jelas, karena Kwik Kian Gie menganggap minyak mentah dapat terkonversi 100% menjadi Premium. Maklum, dia kan ahli ekonomi, gak pernah belajar pengolahan minyak🙂.

Beberapa tahun belakangan, saya hampir tidak pernah menggunakan kendaraan umum untuk bepergian. Dalam tiga tahun terakhir, tercatat saya hanya dua kali naik angkutan kota dan satu kali naik bus transjakarta. Kalau tidak bawa kendaraan sendiri, ya saya naik taksi.

Sombong? mungkin, tergantung gimana melihatnya

Tapi saya ada alasan dibalik itu.

Alasan yang pertama, saya tidak suka nyaman bila harus bersentuhan dengan orang yg tidak saya kenal tanpa saya inginkan. Desak-desakan apalagi. Saya sudah kenyang menghadapi ini dulu waktu masih SMA dan saya phobia karenanya. Loh, waktu di Singapura? Saya memilih menunggu bus berikutnya, duduk dikursi, deket jendela, minimum sentuhan, daripada harus memaksa masuk.😀

Alasan yang kedua, repot bin ribet. Misalnya saya mau ke Blok M dari rumah saya (Depok), maka saya harus naik: 1. Angkot 2. Angkot, 3. disambung dengan kopaja (ada dua opsi, empet2an sampe blok M atau ke Pasar Minggu) 4. Metromini yang tidak penuh (dengan resiko dioper ditengah jalan). Ribet kan? Berapa kali harus ganti? Blm lagi kalo mau ke Bintaro misalnya. hadeeeh…

Alasan yang ketiga, I don’t trust them, especially with recent accidents. Ini alasan yang paling mendasar. Saya tidak percaya dengan angkutan umum. Kejahatan didalamnya, sopirnya yang ugal-ugalan yang menganggap penumpang hanyalah seonggok daging demi kejar setoran. Saya tidak mau menyerahkan hidup saya yang berharga begitu saja kepada orang-orang ini.

Pagi tadi saya baru saja melihat Koantas Bima jurusan kampung rambutan-Lb. Bulus menabrak kijang innova di tol JORR.

Kalau ada perbaikan apakah saya mau menggunakan kendaraan umum? Mungkin. Sangat mungkin. Tapi kapan?

Jangan heran bila masyarakat berlomba-lomba memiliki kendaraan sendiri baik roda dua ataupun roda empat, karena mereka, sama seperti saya sudah hilang kepercayaan dengan layanan angkutan umum.

Saya bersyukur diberi kelebihan rezeki sehingga memiliki pilihan menggunakan kendaraan sendiri. Saya hanya bisa berharap pihak yang berwenang mengambil tindakan tegas kepada awak/pengusaha angkutan yang lalai akan keselamatan penumpangnya. Dan saya mohon kepada awak bus/angkot, manusia yang anda bawa itu masih HIDUP, mencari penghidupan untuk keluarganya, sama seperti ANDA. Hargailah mereka, layani mereka dengan baik.

Kalo lagi nyetir, saya suka dengerin radio/CD, belakangan selalu dengerin Motion 97.5 FM. Selain karena lagu-lagunya enak, penyiarnya juga lucu dan menghibur.

Nah, penyiarnya kadang suka menyelipkan iklan produk sponsor di acara mereka masing-masing. Salah satu produknya adalah GT Radial Champiro Eco.

Bunyi iklannya kurang lebih seperti ini:

“Jalan Jakarta macet, kalo macet bikin boros bahan bakar. Makanya pake GT Radial Champiro Eco atau Champiro HPY, ban yang ramah lingkungan dengan teknologi nano silica yang memaksimalkan penggunaan bahan bakar sehingga lebih irit tapi dengan daya cengkram yang optimal disegala kondisi jalan.”

Nah, ini yang menurut saya agak kurang masuk akal. Apa hubungannya antara ban dan irit bahan bakar ketika macet? Ya namanya juga macet, kendaraan nyaris gak bergerak. Mau pake ban apa juga sama aja bukan, kendaraannya tetep gak bergerak! Apa dengan pake GT Radial Champiro Eco lantas jadi lebih lancar atau malah bikin mobil terbang sehingga bebas dari kemacetan? Mbuh, tanya sama yang bikin iklannya.

Atau mungkin maksudnya kalo pake GT Radial Champiro Eco ini bisa bikin irit konsumsi BBM secara rata-rata untuk setiap kondisi jalan?

Jika demikian, mungkin saya tertarik, karena saya rata-rata mengemudi sejauh 100 km perhari dengan konsumsi bbm 12.5 l/100 km. Nah pertanyaan selanjutnya, berapa banyak penghematan? Signifikankah penghematan tersebut dibandingkan dengan menggunakan ban produksi pabrikan lain? Sudah teruji secara ilmiah atau paling tidak pembuktian empiris dengan road test? Berapa lama ban akan mengalami keausan sehingga harus diganti?

Saya mengajukan pertanyaan tersebut karena saya merasa bodoh jika percaya saja dengan klaim iklan. Akan sangat disayangkan bila si pembuat iklan menganggap konsumen mereka akan serta merta percaya dengan marketing gimmick tersebut, karena dengan demikian mereka secara tidak langsung menganggap konsumen mereka bodoh dan tidak kritis.

Saya pernah menanyakan hal ini lewat akun twitter @MOTION975FM, seperti screen shot dibawah,


tapi hanya mendapat jawaban on-air sebagai berikut.

“Buat mas Ari, silahkan ditanyakan ke toko ban.”

Sebuah jawaban yang mengecewakan tentunya.