Skip navigation

Tag Archives: hidup

Belakangan ini, saya sering menuliskan “Better die lah!” dimana saja. Profile friendster, status di YM, ya rasanya ingin selesai saja hidup ini. Sebabnya? Hmm, beberapa orang sahabat mungkin tahu sebabnya. Gak perlulah diceritakan disini.

Sampai kemarin, ada teman di YM, menunjukkan video ini, sambil bertanya, “kalo tau ada temen lo yang kayak gini gimana?”

Jawaban saya atas pertanyaan itu adalah

“hidup memang berat, dan kalo lo mau mengakhiri hidup lo dengan cara itu, itu pilihan lo, cuma gue mau lo tahu satu hal… cuma pengecut yang menyerah akan kerasnya hidup”

Nah terus kenapa lo menuliskan “better die lah!”?

Saya kan menuliskan better die lah, bukan mau suicide.

Tapi apakah memang benar, dalam kondisi seperti saat ini, Die is better than live?

Tadi malam saya mendapat jawabannya…

Seperti biasa, selesai sholat Isya dan membaca beberapa ayat suci Al Qur’an saya baru tidur. Tadi malam saya bermimpi yang menurut saya cukup dahsyat. Saya bermimpi kalau saya meninggal. Dalam mimpi saya itu, saya seperti “ruh” yang didampingi oleh dua orang melihat jasad saya sendiri terbujur kaku, dikelilingi orang-orang tercinta saya, orang tua, adik-adik, sanak famili, menangisi kepergian saya. Ada yang menangis sedih, ada yang menangis karena kesalahan yang belum saya maafkan.

“Tuh, kamu lihat, yang terjadi kalau kamu mati…” kata yang ada disebelah kanan saya. Saya hanya terdiam.

“Ibumu menangis, ayahmu, adik-adikmu…”

Saya kemudian teringat hutang saya kepada orang tua saya, membalas budi mereka.

“Sudah melihatnya?” tanya yang disebelah kiri saya. “Kalau sudah, sekarang kita pergi…”

“Kemana?” tanya saya dengan heran, “Kamu mau bawa saya kemana?”

“Ke tempat berikutnya, dimana kamu akan ditanya…”

“Di tanya apa?”

“Pertanggung jawaban kamu…”

“Tidak! Saya tidak mau… saya tidak mau mati sekarang! saya belum siap mati! Saya masih banyak dosa, saya belum bisa membahagiakan kedua orang tua saya. Saya masih ingin berkeluarga… TIDAK!! Jangan bawa saya!!’

Saya meronta, sebisa saya… saya tidak ingin pergi… Saya berhasil meronta dan lepas dari pegangan para pendamping saya.

Lepas itu saya terbangun, melihat sekeliling, dimana saya? Apa yang baru saja terjadi? Jam menunjukkan pukul 3.00, waktu dimana saya biasa sholat tahajjud. Alhamdulillah itu mimpi, dan bukan kenyataan. Saya bersyukur Allah masih memberikan petunjuknya untuk saya bahwa saya mestinya bisa mensyukuri hidup, bahwa saya masih diberi kesempatan untuk melanjutkan hidup. Bahwa saya diberi kesempatan menjadi manusia yang lebih baik. Manusia yang bersyukur. Manusia yang bertobat atas segala kesalahan yang saya perbuat.

Hidup saya memang tidak dalam situasi dan kondisi yang bisa dibilang baik, dan Allah menunjukkan, memberi kesempatan untuk saya memperbaiki hidup. Hidup memang berat, tapi masih lebih baik daripada mati tanpa sempat menikmati dan mensyukuri indahnya hidup.

Nah, dari situ, doa saya lepas Subuh tadi adalah :

Ya Allah, panjangkanlah umur ku, ampunilah segala kesalahanku, jangan kau panggil aku sebelum aku sempat membersihkan diri atas segala dosa ini. Ya Allah, panjangkanlah usiaku, panjangkanlah usia kedua orang tuaku, berilah aku kesempatan untuk membahagiakan mereka. Ya Allah, berikanlah aku petunjuk atas pasangan hidup, yang bersamanya aku mengarungi dalam rumah tangga yang sakinah, mawwadah, warrahmah dalam ridho dan jalanMu. Ya Allah, puji serta syukur atas semua nikmat yang kau berikan untukku, dan jadikanlah aku manusia yang bersyukur. Ya Allah, hanya kepada Engkaulah aku meminta dan kepada Engkaulah aku mohon pertolongan.

Baiklah, pertanyaan ini muncul karena terkadang kita merasa butuh alasan yang pas untuk melanjutkan hidup.

Pernah ada yang bertanya kepada saya, kenapa saya kepingin untuk nikah?

Karena saya ingin hidup saya lengkap.

Loh, memang kenapa dengan hidup saya sekarang? Kurang lengkap apalagi? Rumah sudah berdiri, meskipun bertipe 54 dan masih harus dicicil 20 tahun. Mobil ada, kerjaan lumayan menghasilkan. Lah terus apalagi yang belum lengkap? Coba lihat, apa yang belum ada? Istri dan keluarga, itu yang belum ada. Berarti hidup saya belum lengkap! Itu alasan kenapa saya ingin menikah yang datangnya dari saya sendiri. Selain itu menikah itu perintah agama saya (Islam), ini untuk menguatkan alasan saya menikah, agama sebagai sandaran dan tuntunan, saya berusaha menguatkan pilihan saya dengan bersandar kepada ajaran agama saya, seperti Al Qur’an dan hadits.

Nikah itu hukumnya wajib kalo menurut agama saya. Karena perintahnya tertuang dalam surat An Nuur ayat 32, yang terjemahannya kurang lebih sebagai berikut :

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (An Nuur : 32)

Selain itu, Rasulullah sangat menganjurkan pernikahan, bahkan kalau bisa jangan menunda-nunda pernikahan, seperti yang ada didalam haditsnya:

Hadis riwayat Abdullah bin Mas`ud ra.:
Dari Alqamah ia berkata: Aku sedang berjalan bersama Abdullah di Mina lalu ia bertemu dengan Usman yang segera bangkit dan mengajaknya bicara. Usman berkata kepada Abdullah: Wahai Abu Abdurrahman, inginkah kamu kami kawinkan dengan seorang perempuan yang masih belia? Mungkin ia dapat mengingatkan kembali masa lalumu yang indah. Abdullah menjawab: Kalau kamu telah mengatakan seperti itu, maka Rasulullah saw. pun bersabda: Wahai kaum pemuda! Barang siapa di antara kamu sekalian yang sudah mampu memberi nafkah, maka hendaklah ia menikah, karena sesungguhnya menikah itu lebih dapat menahan pandangan mata dan melindungi kemaluan (alat kelamin). Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penawar bagi nafsu. (Shahih Muslim No.2485)

Hadis riwayat Anas ra.:
Bahwa beberapa orang sahabat Nabi saw. bertanya secara diam-diam kepada istri-istri Nabi saw. tentang amal ibadah beliau. Lalu di antara mereka ada yang mengatakan: Aku tidak akan menikah dengan wanita. Yang lain berkata: Aku tidak akan memakan daging. Dan yang lain lagi mengatakan: Aku tidak akan tidur dengan alas. Mendengar itu, Nabi SAW memuji Allah dan bersabda: Apa yang diinginkan orang-orang yang berkata begini, begini! Padahal aku sendiri salat dan tidur, berpuasa dan berbuka serta menikahi wanita! Barang siapa yang tidak menyukai sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku. (Shahih Muslim No.2487)

Rasulullah Saw bersabda kepada Ali Ra: “Hai Ali, ada tiga perkara yang janganlah kamu tunda-tunda pelaksanaannya, yaitu shalat apabila tiba waktunya, jenazah bila sudah siap penguburannya, dan wanita (gadis atau janda) bila menemukan laki-laki sepadan yang meminangnya.” (HR. Ahmad)

Kemudian untuk apa menikah?

Selain seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, tujuan untuk menikah adalah melengkapi hidup (sebagian bilang menguasai separuh agama, seperti dalam hadits berikut “Barangsiapa kawin (beristeri) maka dia telah melindungi (menguasai) separuh agamanya, karena itu hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi.” (HR. Al Hakim dan Ath-Thahawi)). Kemudian untuk menunaikan kewajiban sebagai orang yang masih mengaku Islam.

Tentu saja tujuan lain adalah untuk memperoleh keturunan. Loh, kalo memperoleh keturunan kan gak harus nikah? Iya, tapi legalitas dari keturunan kita nantinya gimana? Kalo menikah kan jelas, bapaknya siapa, ibunya siapa. Meskipun gak ada yang namanya anak haram, karena pada dasarnya setiap anak adalah suci di mata Allah, legalitas akan status sang anak akan sangat membantunya kelak dalam kehidupan selanjutnya, terlebih kalo ternyata yang lahir anak perempuan, sehingga kelak ketika dia akan menikah, jelas siapa walinya.

Dengan siapa kita menikah?

Sebenarnya ada banyak kriteria yang bisa dipakai untuk memilih pasangan hidup. Diutamakan seagama, meskipun tidak diharamkan bagi seorang laki-laki menikahi wanita dari Ahli Kitab (maksudnya mereka yang mempercayai kitabullah sebelum Al Qur’an (Injil, Taurat, Zabur)) seperti dalam surah Al-Maaidah ayat 5 : “Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi. “

Namun untuk menghindari pembahasan yang akhirnya jadi OOT dan lari ke kawin campur (di bahas lain waktu), saya beranggapan, sebaiknya memilih pasangan itu yang seagama. Sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya, Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia.” Muttafaq Alaihi dan Imam Lima.

Kriteria berikutnya, orang yang ingin dinikahi sebaiknya orang yang kita sukai, jangan menikah tanpa melihat terlebih dahulu wanita yang akan dinikahi itu. Rasulullah SAW mengajarkan cara-cara memilih pasangan, seperti yang tertuang dalam hadits berikut,

Dari Jabir bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu melamar perempuan, jika ia bisa memandang bagian tubuhnya yang menarik untuk dinikahi, hendaknya ia lakukan.” Riwayat Ahmad dan Abu Dawud dengan perawi-perawi yang dapat dipercaya. Hadits shahih menurut Hakim.

Atau hadits berikut,

Menurut riwayat Muslim dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bertanya kepada seseorang yang akan menikahi seorang wanita: “Apakah engkau telah melihatnya?” Ia menjawab: Belum. Beliau bersabda: “Pergi dan lihatlah dia.”

Kemudian wanita itu hendaklah sayang kepada kamu,

Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan kami berkeluarga dan sangat melarang kami membujang. Beliau bersabda: “Nikahilah perempuan yang subur dan penyayang, sebab dengan jumlahmu yang banyak aku akan berbangga di hadapan para Nabi pada hari kiamat.” Riwayat Ahmad. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.

Petunjuk-petunjuk diatas ditujukan untuk laki-laki, kemudian bagaimana dengan wanita? Apakah seorang wanita hanya pasrah menerima serta-merta pinangan laki-laki?

Menurut hemat saya, wanita harus diajak berembuk dalam masalah pernikahan ini. Wanita berhak menolak pinangan seorang laki-laki, dan penolakan ini hendaknya diucapkan dengan jelas, karena diam dapat berarti iya.

Dalam dua hadits terpisah Rasulullah SAW bersabda,

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Seorang janda tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diajak berembuk dan seorang gadis tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta izinnya.” Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana izinnya? Beliau bersabda: “Ia diam.” Muttafaq Alaihi.
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa ada seorang gadis menemui Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam lalu bercerita bahwa ayahnya menikahkannya dengan orang yang tidak ia sukai. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memberi hak kepadanya untuk memilih. Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah.

Sebenarnya masih sangat banyak ajaran-ajaran Rasulullah tentang pernikahan, namun tentu akan sangat panjang jika dibeberkan disini.

Mudah-mudahan apa yang sedikit ini dapat menambah pengetahuan kita dan memantapkah hati dan niat kita untuk menikah dan membangun rumah tangga jika tiba pada waktunya kelak. Mohon maaf apabila ada kesalahan, sesungguhna kebenaran itu datangnya dari Allah SWT.

“Penyesalan gak pernah dateng duluan”

“Ah, seandainya saya tidak melakukan ini, pasti…”

Pernah mendengar hal tersebut? Pernah merasa demikian? Saya rasa semua orang pernah menyesal. Termasuk saya…

Tapi saya sekarang ingin hidup tanpa penyesalan, mungkinkah?

Hidup ini penuh dengan pilihan, mau tidak mau kita harus memilih, tanpa tahu apakah pilihan ini benar atau salah sebelumnya. Memilih, itu harus!

Karir, jodoh, makan, minum, bahkan untuk tetap hidup pun merupakan sebuah pilihan. Pilihan yang benar-benar menentukan hidup saya, saya terima pertama kali ketika saya baru saja beranjak remaja. Ayah saya, ingin saya mengikuti jejaknya dengan harapan suatu hari saya dapat melanjutkan usaha yang dirintisnya. Beliau ingin saya meneruskan ke sekolah kejuruan daripada sekolah umum. Pilihan saya justru sekolah umum, karena cita-cita saya adalah menjadi apa yang saya inginkan (waktu itu jadi dokter), bukan untuk mengekor apalagi meneruskan usaha orang tua saya. Tentu saja kekecewaan tampak pada wajah orang tua saya. Saya menyesal? Tidak tahu, waktu itu belum mengerti arti penyesalan sebenarnya, mungkin kalo saya liat sekarang, menyesal karena telah mengecewakan ayah saya. Tapi saya liat sisi baiknya, saya ada disini sekarang, yang belum tentu tercapai jika saya mengikuti saran ayah saya.

Waktu di bangku kuliah juga demikian, saya merasa salah pilih jurusan (saya kuliah teknik, padahal dulunya pengen jadi dokter). Kuliah kok kayaknya susah banget, rumus-rumus njelimet saya hadapi setiap saat, saya rasanya menyesal kuliah di kampus dan jurusan ini. Tapi, saat saya bilang sama ayah saya, kalau saya ingin pindah jurusan ke kampus sebelah. Beliau cuma bilang, hadapi saja, tekuni, hambatan itu datangnya dari diri kamu, bukan kuliah-kuliah kamu, bukan rumus-rumus itu, bukan teks book yang setumpuk. Saya rasa beliau benar, empat tahun kemudian saya lulus juga, tidak masuk kategori cum laude sih, ya pokoknya lulus lah. Dan berkat itu juga saya bisa ada di sini, coba kalo saya pindah jurusan, bisa jadi saya malah ada di daerah terpencil, memulai karir jadi dokter.

Lulus kuliah, seperti biasa, susahnya cari kerjaan… Saya lagi-lagi dihadapkan dengan pilihan, terus berusaha cari pekerjaan, atau meneruskan usaha ayah saya sambil memelihara kolam ikan di belakang rumah? Saya bilang sama ayah saya kalau saya susah dapet pekerjaan dan ingin belajar meneruskan usaha beliau. Beliau cuma tersenyum sambil berujar, buat apa kamu sekolah susah-susah, belajar rumus njelimet kalo cuma meneruskan usaha ini yang cuma butuh tambah, kali, bagi, kurang? Lagi-lagi beliau benar, dan saya akhirnya bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. Coba kalau saja saya berhenti mencari kerja dan meneruskan usaha ayah saya, mungkin saya tidak berada disini.

Ya, kita tidak tahu apakah pilihan itu benar atau salah, sampai kita menjalaninya. Tapi ada suatu tools yang diberikan oleh Tuhan yang Maha Kuasa untuk menilai suatu pilihan, yaitu nalar dan naluri. Maksimalkan tools ini, maka tidak ada lagi pilihan benar atau salah. Kalaupun salah, pasti kita sudah prepare dengan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi, sehingga rasa penyesalan itu bisa berkurang atau bahkan hilang. Do the best, but prepare for the worst…

Tapi ada downside dari pemikiran ini, yaitu, rasa takut gagal, bagaimana jika saya malah jadi sengsara, bagaimana jika, dan banyak bagaimana jika yang lain. Terlalu banyak pertimbangan yang akhirnya menjadikan kita untuk takut melangkah. Lalu? Lalu bagaimana maksudnya? Ya, sekali lagi, kita punya nalar dan naluri. Kalau dirasa belum cukup yakin ya, lakukan analisa resiko. Plus dan minus, lebih banyak mana, hasilnya bagaimana? Kalo positif, selamat, anda jadi bapak! Paling tidak anda yakin dengan pilihan anda, dan dengan keyakinan itu saya jamin, anda tidak akan menyesal walaupun pilihan anda salah.

Dan satu lagi, setiap pilihan ada hikmah yang bisa diambil, berfikir dari sisi positif, saya tahu ini susah dilakukan dan dibutuhkan perasaan yang ikhlas, karena menjadi positif berarti anda bersiap dengan sikap anda yang harus tetap positif atas apapun yang terjadi. Menjadi positif bukan berarti menerima saja apa yang terjadi, sama sekali tidak. Kalau anda tidak bisa merubah kondisinya, anda bisa merubah sikap anda dalam menyikapi situasi yang ada. Pokoknya sifat positif harus dibarengi dengan perilaku positif juga. Jangan anda kemudian menerima dan cuma menerima, you become a loser my friend. Anda tidak mengambil hikmah artinya. Wah saya sudah ngelantur ya? Maaf, bukan maksud untuk ngelantur dan menggurui. Cuma tumpahan pemikiran saja. Berbagi dengan anda semua.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.