Skip navigation

Tag Archives: fiksi

The airbus A330 has just landed at the city airport, I am onboard of that flight. I was assigned to do some work for my company’s client. Yeah, I am no longer a freelance IT consultant, I’ve signed with an IT consultancy company for a while now. I stroll down the arrival hall with my carry-on luggage, as usual, light traveler I am.

I hail for a cab outside the terminal and ask the driver to take me to my hotel. The hotel is located downtown, with plenty of amenities and of course, a wi-fi connection to the internet is available. I was reluctant to take the task at first, not because of the company, but the city. The city I’ve been before, where I met her for the first time, on my freelance days.

She, with her smile, her tan and fair skin. Not that easy to forget.

Our late night chats, hiding from her significant other.

“Here we are Sir… Sir..?”

A wake up call from the taxi driver as my mind wondering while I am gazing out the window.

“Oh…”

I gave the driver the money for the taxi fare as he finish unloading my bag from the trunk. Then I walk towards the receptionist and check myself in.

The receptionist gave the key to my room and after all is finish I went straight to my room, after hours of flight a cold shower before dinner is refreshing.

I walk down the street to have dinner after getting my stuff unpacked and finish with the shower. A little cafe just around the corner, serving local delicacies is where I am heading. A place I am familiar with from my previous visits.

I went up to my room after dinner, turn on my laptop, waiting for the wi-fi to connect me to the internet and logging in to my mail boxes. One, two, three, fifteen work emails downloaded. I guess I have to finish reading and replying these emails first before I do something else.

I click on the instant messenger applications, get them all up and running to see who is online. On skype, none of the guys from the office online, of course, it’s past working hours already.

On Gtalk, my buddies are online,  but seems that all of them are busy. We had a meet up once a month, just to see each other and talk and chat about life and who’s doing what for whom. The last meet up we had was a week ago and everyone is busy with their projects.

On Y!M the other hand, she’s online… coincidence much?

“Hi, how have you been? Long time no talk.”

“Yes, I’ve been okay so far. How are you?”

“I am fine thanks. By the way I am in town now…”

“what do you mean?”

“I am visiting a client in the city. Care to meet?”

“I would love to meet you after all this time, but you know how it is with me…”

“Yeah, the significant other…” *sigh*

“Don’t be like that…”

“Anyway, I have to go now and take a rest. I’ll be in town for a week, let me know if you are available.”

“which hotel are you staying?”

“Hyatt…”

I switch off my laptop and getting ready for bed.

As I lay my head on the bed, I keep thinking what have I done earlier.

Voluntarily opening the wound I’ve tried to heal. Spending all these years getting her out of my mind and my life. Trying to keep myself busy, hey, with just a flip of second, the memory resurface.

For 30 minutes I’m lying on the bed trying to figure out what has happened, when suddenly someone knock on the door…

“who is it?”

Silent… and another knock on the door…

I get up from the bed and rush to the door…

It’s her, standing outside my room.

“Hi…”

I let her in and…

“What are you doing here?”

“sshh, shut up…”

As a kiss landed on my lips… And slowly I close the door…

Aku dan Iin berjalan menyusuri Jalan Tubagus Ismail, menuju pasar simpang, kemudian ke Kafe Halaman yang terletak di pojok jalan Tamansari. Sebenernya naik angkot bisa saja, cuma dengan berjalan akan lebih leluasa buat kami bercakap.

“Masih lama kuliahnya In?”

“Gak kok, bentar lagi, paling dua atau tiga semester lagi… Elo sendiri?”

“Gue juga bentar lagi, lagi mau ambil TA… paling sama lah kalo rajin ngerjain TAnya, sambil ngulang mata kuliah yang jelek-jelek…”

Kurang lebih 15 menit kami menyusuri jalan, sampailah kami di tempat tujuan. Malam itu tidak terlalu ramai memang, hanya beberapa kursi yang terisi. Aku memilih tempat di sudut halaman itu. Seorang pelayan kemudian menyerahkan menu, aku biarkan Iin memilih sendiri apa yang diinginkan, dan aku, Calamary sebagai pembuka…

Iin memesan Mie Yamin ayam plus baso sedangkan aku Mie Ayam dengan pangsit. Sedangkan untuk minuman aku memesan orange juice, sedangkan Iin strawberry juice. Selesai memesan kami berbincang, mulai dari kuliah, masa SMA, sampe hal-hal yang bersifat pribadi.

“Elo anak keberapa Gun?”

“Gue anak sulung dari dua bersaudara. Adik gue cewe, masih sekolah di SMA kelas 1. Elo sendiri?”

“Gue anak bungsu dari tiga bersaudara, kakak gue cowo dua-duanya. Jadi kayak yang dimanja gitu deh sama orang tua.”

“Emang manja kali…”

“hehehe…bisa aja lo…”

“biasanya anak bungsu, apalagi cewe itu manja banget, gak mau jauh dari orang tuanya.”

“Iya sih, tadinya juga gue gak mau kuliah di bandung, maunya kuliah di Jakarta, tapi apa daya keterimanya di Bandung.”

“Punya pacar In?”

“Hahahaha… elo pasti nunggu buat nanya itu dari tadi ya?”

“hahaha… iya… Is it that obvious?”

“Yeap, I can see it on your forehead… Gak, gue masih jomblo, udah hampir setahun ini sih… belom ketemu yang cocok aja kali yaa… Emang kenapa?”

“Hmm, gak, gak kenapa-kenapa…”

Dan kupu-kupu itu mulai beraksi lagi, menggelitik perutku, membuat mulutku terkunci rapat dan kaki-kaki bergetar… Calamari itu seakan tertawa begitu renyahnya dan aku hanya bisa mengumpat, “sialan!”

Dan saat itu, aku, Gunadharma Sanjaya… hanya bisa terdiam, lagi dan lagi….

Ku tengok kembali jam tangan ku, jam 7 pas… kok Iin belom juga muncul ya? Jangan-jangan gak jadi, kalo gak jadi kenapa dia ngga ngasih kabar?

Seribu pertanyaan berkecamuk dikepalaku, mencari jawab, meraba-raba segala kemungkinan. Jantung berdetak tak berirama lagi, makin cepat dari degupan keras dengan tempo moderato menjadi degupan kencang, dan cepat layaknya attacante berlari mengejar umpan lambung jauh dari portiere.

Kemana dia? Kepalaku celingukan mencari sosok yang kunanti, mondar-mandir layaknya satpam mengawasi pintu masuk komplek.

Jam 7.15, dia belum juga datang…

Aku ambil telpon genggamku dari kantong celana jeansku, melihat siapa tahu ada pesan dari Iin…

No new message

Kucari nama itu yang sekarang masuk dalam panggilan cepatku… kutekan angka 4… tersambung, ah kenapa gak diangkat…

Aku makin panik, jangan-jangan memang dibatalkan…

Baiklah, aku tunggu 15 menit lagi…

5 menit berikutnya terasa sangat cepat… dan 10 menit…

Tinggal 5 menit lagi, atau kusimpulkan kencan pertama yang gagal…

Aku mulai putus asa, jam tanganku menunjukkan pukul 7.28, tampaknya dia tidak datang. Aku mulai berjalan meninggalkan tempat itu melangkah kembali menyeberang jalan kembali pulang. Sampai aku diseberang jalan, baru saja masuk ke gang, tiba-tiba terdengar suara yang memanggil namaku, setengah berteriak…

“Iguuunnn…..”

Aku menoleh ke asal suara itu, kulihat Iin berdiri di sana, mengenakan kaos polo putih berbalut jeans ketat. Ah tampak manis sekali dia, dengan make-up natural… Aku memang selalu tertarik melihat gadis berkaos putih. Aku berbalik menghampirinya…

“Hi…”

“Hi Gun, sorry telat, biasalah cewe…”

“Gak apa… kirain tadi batal, jadi?”

“Yuk…”

 

 

Hari itu kuliahku cuma dua mata kuliah saja. Selesaipun tidak terlalu sore. Aku teringat dengan Iin dan janjiku untuk menelponnya. Jari tanganku mulai menelusuri tombol-tombol di telpon genggamku, menekan menu, address book, nama… kemudian… muncullah nama orang yang aku cari, Iin…

Kupilih nama itu, kemudian kutekan pilihan call. Hmm sebersit keraguan menyergapku… aku batalkan sebelum tersambung dan diangkat. Gugup dan tidak percaya diri membekapku. Penyakit! Ini adalah penyakitku ketika berhadapan dengan wanita, apalagi dengan wanita yang aku jatuh suka padanya. Untuk sekedar mengajaknya jalan dan makan malam saja aku rasanya panas dingin. Meskipun wanita itu tak ada dihadapanku! Susah rasanya memulai percakapan, untuk sekedar berkata HALO atau HAI…

Kuberanikan diriku lagi, ku tekan tombol bertanda gagang telfon dengan warna hijau, nama Iin langsung terpilih dan tak lama kemudian…

tuuuut… tuuuutt…..

Nada sambung terdengar, berdebar, tiap bunyi nada sambung itu memacu detak jantungku 10 kali lebih cepat.  Aku semakin gugup, aku takut nanti malah mengganggu percakapanku…

“Halo Gun…”

Yah, pasrah sudah, suara diseberang sana sudah menjawab, mau tidak mau aku harus memulai percakapan…

“Halo In…hmm… ee….”
“Ada apa Gun?”
“Gak, gak ada apa..”
“Masih di RSHS?”
“Gak kok, udah pulang, sekarang lagi di kost nih…”
“Gak kemana-mana In?”
“Belum ada rencana sih, emang kenapa?”
“Hmmm, eh… hmmm”
Ini nih, penyakitnya kambuh lagi, duh, mau mengajak makan malam di kafe halaman aja susah banget sih rasanya.

“Gun…”
“Eh iya, kalo gak kemana-mana, kita ketemuan sambil makan malam di kafe halaman, mau gak?”
Entah dia menyadari atau tidak, rasa gugup membuat suaraku seperti bergetar, tapi tak peduli, yang penting niat sudah terlontar, Here goes nothing…

“Nanti malam ya? Boleh aja, mau ketemu jam berapa?”
Aku tahu dia tersenyum, kadang, kita bisa merasakan apakah lawan yang diajak bicara itu tersenyum atau tidak. Aku sedikit lega, Iin menerima ajakanku.

“Habis gue sholat maghrib, nanti gue tunggu di ujung gang ya… jam 7 deh…”
“Boleh, jam 7 kayaknya ok…”

Jam menunjukkan pukul 5 sore, aku segera berjalan pulang. Mungkin karena dalam suasana hati yang berbunga-bunga, aku tidak sadar kalau ternyata aku sudah sampai pasar simpang, karena tanggung aku lanjutkan saja berjalan sampai ke kost. Setibanya di kost sudah setengah 6. Akupun bergegas mandi. Nyanyian-nyanyian cinta berkumandang dari kamar mandi, aku merasa seperti kembali ke masa-masa SMA dulu ketika aku pertama kali mengajak cewe yang aku sukai kala itu untuk pergi berdua.

Selesai mandi, aku berpakaian, kemudian sholat maghrib, pakaian santai saja, kaos warna merah maroon, jeans yang agak sedikit belel, sepatu casual. Tak lupa deodoran dan farfum biar wangi… pokoknya kesan pertama jangan sampe mudah dilupakan. Nah bagian ini yang agak menyebalkan… menunggu!

Aku menunggu di kamarku, sedetik rasanya setahun dan semenit seperti seabad. Bolak-balik gelisah aku memindahkan saluran tv… acara tv seperti membosankan semua! Perlahan jam berdetak dan terus bergerak, ku amati pergerakannya, duh lambat sekali rasanya…. Cepat hai kau jam bergerak!! Aku sudah tidak sabar lagi….

Waktu menunjukkan pukul 6.30, akupun beranjak dari kasur dan keluar menuju tempat pertemuan kami, lagi, aku harus menunggu lagi… Dan jam pun bergerak makin melambat….

Di ujung jalan itu setahun kemarin… Ku teringat, ku menunggumu bidadari belahan jiwaku…

 

Langkahku ragu untuk mendekati gadis itu, masih dibawah temaram lampu di arena permainan bilyar, perlahan ku dekati. Tak lebih dari lima langkah lagi aku berhadapan dengan dia wajah itu semakin jelas, ternyata bukan Lisa, cuma seseorang yang mirip dengannya. Kepalang tanggung aku terus melangkah. sampai akhirnya, dengan basa-basi aku berkenalan. Namanya Wulan, anak kampus tetangga.

Aku kembali dan Marwan masih menunggu, sambil tersenyum aku menjelaskan kalau dia bukan Lisa, dan kemudian kami meneruskan permainan. Kali ini aku sudah kembali ke “form” dan konsentrasikupun tertuju pada bola-bola 1 sampai 9 yang ada di meja. Tak terasa kami sudah menghabiskan hampir 3 jam bermain bilyar, tak terhitung berapa batang rokok yang sudah kami hisap. Akhirnya, kamipun menyelesaikan permainan. Selesai membereskan pembayaran kami beranjak pulang dan makan malam di Selasih. Aku berinisiatif untuk mengajak beberapa kawan dan akhirnya, kami berlima, aku, Marwan, Luthfi, Gigin dan Rustam, teman satu kampus namun berbeda jurusan pergi ke Selasih.

Seperti biasa, kami berlima adalah orang yang paling ramai ditempat itu, berkelakar, bercanda, saling mengejek. Sambil menikmati pesanan masing-masing, kami memperhatikan satu-persatu pengunjung yang datang. Browsing, kalau menurut istilah Gigin. Sesekali celetukan keluar dari mulut kami, bila ada cewek cakep yang datang.

Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, kamipun beranjak pulang. Aku dan Gigin satu kost, sedangkan Marwan, Lutfi dan Rustam tinggal di daerah yang berdekatan. Aku dan Gigin diantar Marwan pulang terlebih dahulu, lepas menurunkan kami di depan kost, mereka pun pergi.

Satu minggu berlalu sejak aku bertemu dengan Iin di KA Parahyangan. Sampai suatu ketika secara tidak sengaja ketika aku sedang menunggu angkot di Tubagus Ismail kami bertemu. Kebetulan, dia juga sedang menunggu angkot ke RS Hasan Sadikin.

“Hi Gun…”
“Hi In… Mau ke Kampus?”
“Ngga, mau ke RSHS, ada janji sama temen disana. Lo mau ke kampus?”
“Iya, ada kuliah sekalian mau ngerjain tugas. Elo masih nyimpen nomor HP gue kan?”
“Masih, emang kenapa?”
“Gak kenapa-kenapa, kali aja elo mau SMS atau nelpon gue gitu…”
“Yeee, GR…”
“hahahaha, bukan-bukan, maksudnya, gue boleh kan nelpon lo kapan-kapan?”
“Boleh…”
“Gak ada yang marah?”
“Kalo nelpon aja sih gak ada yang marah…”
“Kalo ngajak makan malam?”
“…”

Belum terjawab dan angkotpun tiba, didalam angkot sudah lumayan penuh, hanya cukup untuk satu orang lagi. Aku persilahkan Iin untuk duluan sambil memberi tanda dengan tanganku bahwa aku akan menelpon dia suatu saat nanti. Aku pun kembali menunggu, kali ini seorang diri. Untunglah tidak berapa lama ada angkot lain yang lewat. Aku pun naik dan sambil tersenyum simpul, “what a lame pick up line”, gumamku dalam hati saja. Bagaimanapun, aku memang berniat untuk menelpon Iin kok, dan aku merasa ada ketertarikan dalam diriku terhadap sosok Iin.

Aku turun dari angkot dan melangkahkan kaki menuju kantin, kali ini bukan di GKU lama, aku kepingin makan Nasi Soto di warung jurusan TI. Sudah terkenal seantero FTI kalo ada Nasi Soto yang lumayan enak dan bisa delivery order. Tinggal SMS si penjual yang dikenal dengan Warsito, entah memang namanya atau kebetulan singkatan dari Warung Nasi Soto. Aku pesan Nasi soto plus baso dan segelas Teh Manis, harganya tidak lebih dari Rp 5000. Banyak juga yang mengantri dan sebagian sedang menikmati Nasi Soto, Mie baso atau beragam hidangan lain yang disediakan oleh warung kecil itu. Sementara Warsito baru saja kembali dari mengantar pesanan anak-anak teknik kimia.

“Gun, baru nyampe?”
“Iya nih To, pesan Nasi Soto plus baso sama es teh manis ya… trus lo anter ke kursi deket Tekim, gue tunggu disana.”
“Sip, beres…Piala Champion besok pegang mana?”
“Biasa, Inter Milan donk! taruhan kita?”
“Boleh, 50-50 deal?”
“deal!”

Warsito, dia selalu saja mengajak aku taruhan setiap ada pertandingan liga champion, sekedar obat ngantuk kalo kata dia. Aku melangkah menuju kursi dekat Himpunan Mahasiswa Teknik Material yang letaknya bersebelahan dengan Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia. Tempat yang sangat strategis karena berseberangan dengan Himpunan Mahasiswa Biologi serta Himpunan Mahasiswa Geofisika dan Oceanografi, kedua jurusan ini terkenal dengan mahasiswi-mahasiswi yang cakep-cakep. Sekalian cuci mata lah.  Beberapa rekan seangkatan lewat dan kamipun bertegur sapa sewajarnya.

Tak lama pesananku pun tiba, aku menyerahkan selembar lima ribuan dan warsito kembali melangkah mengantarkan pesanan yang lain. Aku makan sambil sesekali mengedarkan pandangan “browsing” ke arah anak-anak biologi.

bersambung

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.