Skip navigation

Category Archives: Liga Inggris

Sebagai catatan akhir musim EPL 2007/2008, saya ingin mengomentari 4 tim teratas musim ini. Tidak dapat dipungkiri, dengan All England Finals di UCL 2007/2008, Liga Inggris terbukti sebagai liga terbaik di daratan Eropa.

Komentar :

- Manchester United,

they are just the best… simply the best, enough said!

- Chelsea

Abramovich, there something that money can’t buy… Champions… You have to create them! It must be painful seeing multimillion pounds squad wasted!

- Arsenal

Wenger, the time is not yet to come, for now it’s the best that it gets…

- Liverpool

As a 4th placed team for the last hmm I forget for how many seasons, you guys shall shout :

“We just don’t care who will be no 1, 2 or 3… because 4 definitely ours!”

 

Well, what do you know, two English Premiership giants knocked out of FA cup quarter finals!

Akhir pekan ini tampaknya menjadi akhir pekan yang kurang menyenangkan buat fans fanatik dari Red Devils – Man Utd dan The Blues – Chelsea. Man U tumbang ditangan (eh kaki-kaki) anak-anak Portsmouth. Sedangkan Barnsley, meneruskan sensasinya sebagai pembunuh raksasa dengan mengalahkan Chelsea setelah sebelumnya menggusur Liverpool.

Meski menguasai jalannya pertandingan, terlebih bermain dihadapan pendukungnya, Man Utd tidak mampu menembus pertahanan anak-anak Portsmouth. Satu peluang emas diperoleh Carlos Tevez, namun masih bisa dimentahkan oleh Glenn Johnson di garis gawang. Babak pertama Setan Merah menguasai pertandingan, cenderung serangan menjadi arus searah. Namun sejumlah upaya Rooney dan kawan-kawan masih dapat digagalkan barisan pertahanan Portsmouth yang bermain cukup rapat dan disiplin. Tercatat sejumlah peluang diperoleh Ronaldo, Nani, Rooney bahkan Patrice Evra. Namun kesan terburu-buru dan ketatnya pertahanan Portsmouth membuat anak-anak MU gigit Jari. Sejumlah keputusan wasit yang kontroversial juga mewarnai pertandingan, seperti ketika Ronaldo dijatuhkan Sylvain Distin di kotak penalti tapi wasit tidak menganggapnya sebagai pelanggaran.

Babak kedua, Man Utd masih dominan, berkali-kali serangan dilancarkan dan tak jarang mengancam gawang Portsmouth. Namun lagi-lagi masih belum membuahkan hasil. Sir Alex Ferguson melakukan pergantian penjaga gawang diawal babak kedua. Di tengah dominasi Man Utd, di menit ke 75 Milan Baros yang masuk menggantikan Nwankwo Kanu dimenit 55, lolos dari pengawalan dan tinggal berhadapan dengan Thomas Kuszack. Mendekati gawang, Baros dijatuhkan Kuszack, penalti menjadi ganjaran dan Kuszack pun harus meninggalkan lapangan. Karena telah melakukan 3 kali pergantian, Rio Ferdinand ditunjuk menjadi penjaga gawang. Sulley Muntari bersiap mengambil penalti dan berhasil memasukkan bola ke sudut kana gawang. 1 – 0 untuk Portsmouth. Kedudukan ini pun bertahan sampai akhir pertandingan.

Barnsley – Chelsea (1 – 0)

Satu lagi kejutan terjadi di babak perempat final FA Cup, klub divisi I Barnsley menjungkalkan juara bertahan Chelsea di Oakwell. Pemain asal Nigeria Kayode Odejayi, mencetak satu-satunya gol dipertandingan itu. Seolah tak cukup setelah mengkandaskan Liverpool pada babak sebelumnya, Barnsley melanjutkan sensasinya dengan menumbkan klub yang bertabur bintang, Chelsea.

Tak kurang dari John Terry, Joe Cole, Shaun Wright-Phillips, Michael Ballack, bermain dalam pertandingan itu. Namun, sekali lagi, uang dan ketenaran bukan menjadi jaminan dalam sepakbola. Sejumlah upaya pemain-pemain chelsea selama babak pertama dan kedua pertandingan berlangsung tidak dapat membuahkan hasil.

Namun Kayode Odejayi, pemain yang berharga 200,000 pound dibeli dari Celtenham bulan Mei lalu, yang belum mencetak gol selama 28 pertandinga, mengejutkan barisan pemain berharga jutaan pound. Tak ayal, gol ini menjadi suatu yang paling berkesan selama karir Kayode Odejayi.

yap, kejutan demi kejutan terus bermunculan di FA cup musim ini, siapa tahu final nanti Barnsley melawan Cardiff? Hmm bagaimana menurut anda.

-update: M’Boro – Cardiff 0 -2, Bristol Rovers – West Brom 1 -5

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.