Di sebuah kampung yang namanya AsTeng, hiduplah beberapa keluarga. Keluarga ini sebenarnya masih dekat kekerabatannya. Salah satu dari keluarga tersebut bernama Id. Keluarga Id ini keluarga yang kreatif. Punya mainan banyak dan semuanya bikin sendiri. Cuma kelurga Id ini punya kelemahan, saking banyaknya mainan (atau sibuk bikin mainan) mainannya ditaruh sembarangan, ada yang kelamaan disimpen sampe lupa ditaruh dimana. Dan jumlah anggota keluarga Id ini banyaaaak. Sampe sebenernya susah buat ngumpulin dalam satu rumah. Kepala kelurga kadang sampe pusing ngurusin segitu banyak anggota keluarganya.

Nah, di dekat rumah keluarga Id, tinggallah beberapa keluarga yang lain, namanya Sg, Oz, My dan Bn. Semuanya merupakan anak angkat dari keluarga besar Uk. Cuma keluarga Id yang bukan anak angkat, keluarga Id emang dulu anak angkat keluarga Bd tp lebih banyak disiksa sama keluarga Bd, sempet sih di angkat sebentar sama Uk, tp Bd gak rela kayaknya kehilangan Id yang kreatif dan berbakat.

Dari keempat tetangga Id ini, keluarga My emang nyebelin, suka gangguin kalo Id lagi main. Kadang-kadang suka geser pager rumahnya, sampe ada tanah Id yang hilang. Sementara keluarga yang lain sih asik-asik aja, selama elo gak nyenggol gue ya kita berteman baik. Kayaknya emang My sirik kalo Id deket-deket sama Sg dan Oz. Kayak takut gak diajak gitu. Dan kayaknya makin takut, soalnya Id belakangan lagi deket sama keluarga Paman Sam, Kepala keluarga Paman Sam dulunya pernah main di keluarga Id soalnya.

Id juga tadinya gak ambil pusing terlalu banyak soal keisengan si My, sampe beberapa kali keluarga Id mergokin kalo keluarga My itu ngambil mainan dari keluarga Id. Pas ditanya, dia malah bilang, kita kan masih saudaraan sebenernya, jadi sama wajar kan mainannya?. Ya emang sih ada beberapa mainan yang dulu bikinnya sama-sama atau ada yang emang dipinjemin sama Id karena banyak keluarga Id yang bantuin keluarga My. Cuma masa ada yang emang asli mainan bikinan keluarga Id diakuin punya My? Udah gitu itu satpam My suka coba-coba geser pager.

Kayaknya emang udah saatnya keluarga Id “jitak” keluarga My, tp si My ini masih suka arisan keluarga Uk, jadi takutnya mereka ngadu sama ibu suri keluarga Uk. Sg, Oz sama Bn nanti disuruh musuhin keluarga Id juga donk.

Sebelumnya, Dirgahayu Republik Indonesia ke-64. MERDEKA!

Berbicara sebuah negara yang membentang sepanjang 5000 kilometer dari barat ke timur, dengan lebih dari 17000 pulau besar dan kecil tidak dapat dilepaskan dari sejarah yang ada sejak berabad silam dan upaya mempersatukan Nusantara dalam satu panji utuh. Dalam tulisan ini, bersentuhan dengan semangat #indonesiaunite yang sedang bergelora di dalam dada para pemuda – generation Y, if you will – saya akan mengulas dan mengajak melongok sejenak akan sebuah catatan panjang sejarah Indonesia bersatu, yang mungkin banyak terlupakan oleh kita saat ini.

Indonesia Bersatu, Sebuah Awal

Catatan penting akan keberadaan Nusantara pertama kali diabadikan dalam prasasti yang ditemukan di sekitar wilayah Bogor dan Bekasi, yang mencatat keberadaan sebuah kerajaan yang dikenal dengan kerajaan Tarumanagara pada abad ke-4 masehi, yang mencapai puncak kejayaan di masa pemerintahan Raja Purnavarman. Kerajaan yang berpusat di sekitar Bogor dan Bekasi ini merupakan cikal-bakal dari kerajaan-kerajaan yang berdiri selanjutnya di pulau Jawa. Konon kabarnya, pendiri kerajaan ini masih memiliki hubungan darah dengan pendiri Kerajaan Kutai di Kalimantan, yang terkenal dengan Mulavarman.

Kerajaan ini mulai mengalami kemunduran sepeninggal Purnavarman dan kemudian terpecah menjadi dua kerajaan di Pulau Jawa yaitu kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Sementara itu di Sumatera berdiri Kerajaan Srivijaya yang kemudian berkembang menjadi Kerajaan besar pertama di Nusantara yang memiliki pengaruh hingga ke Thailand dan Kamboja di utara, hingga Maluku di timur. Di pulau Jawa sendiri mulai berdiri kerajaan-kerajaan selepas pecahnya Tarumanagara. Kerajaan Sunda yang meliputi sebagian wilayah Jawa Barat dan Banten sekarang serta kerajaan Galuh yang memiliki wilayah kekuasaan Jawa Barat bagian timur hingga Jawa Tengah.

Kerajaan yang mendapat catatan paling penting di periode pra-kolonial ini adalah kerajaan Majapahit. Kerajaan ini didirikan oleh Raden Wijaya pada abad ke-13 dan mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk dengan didampingi oleh Maha Patih Gajah Mada. Ambisi Gajah Mada menyatukan kepulauan tercermin dalam sumpahnya yang dikenal dengan Sumpah Palapa

“Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukita palapa, sira Gajah Mada : Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa.”

Majapahit tercatat sebagai kerajaan terbesar di Nusantara yang berhasil menyatukan kepulauan Nusantara baik secara langsung dibawah kekuasaannya atau tidak langsung (hanya pengaruh). Sepeninggal Hayam Wuruk dan berbarengan dengan masuknya pengaruh Islam di Nusantara, Majapahit mulai mengalami kemunduran. Sementara itu para penjelajah dari barat diilhami oleh keberhasilan Colombus menemukan dunia baru dan penemuan penting di dunia navigasi laut membuat para petualang ini mulai mendatangi wilayah timur jauh yang juga dikenal sebagai sumber rempah-rempah. Dan era perdagangan global pun dimulai. Nusantara yang berada dipersimpangan arus pelayaran international dari timur jauh ke eropa merupakan lokasi strategis sebagai “hub” bagi para pedagang ini.

Yang menjadi catatan dari upaya menyatukan nusantara pada era ini adalah, bahwa ambisi kekuasaan dan feodalisme kental mewarnai masa ini. Perang perebutan kekuasaan atau pengaruh terhadap suatu wilayah, pemaksaan untuk mengakui kekuasaan kerajaan yang lebih besar adalah ciri dari upaya ini. Maka wajar ketika kerajaan penguasa (empire) mengalami kemunduran kemudian terjadi perpecahan dan kekacauan.

Indonesia Bersatu, Era Kolonial

Dimasa ini, Nusantara terpecah atas kerajaan-kerajaan yang saling berebut kekuasaan dan pengaruh. Perang antara satu kerajaan dengan yang lain, bahkan perang saudara terjadi. Sebagai contoh Mataram yang berusaha untuk menangkal serangan orang-orang Madura dan Makassar. Terpecahnya Nusantara memberi celah untuk para pendatang asing menggunakan pengaruhnya untuk kemudian perlahan menguasai sumber daya. Bahkan Mataram meminta bantuan Belanda untuk menangkal serangan Madura dan Makassar, dengan iming-iming diberi wilayah untuk dikuasai.

Dengan kekuatan senjata yang lebih maju dibanding pedang dan tombak, bangsa Eropa makin kuat menanamkan kekuasaannya dibalik feodalisme raja-raja. Bukan cerita baru bila mereka mendukung seseorang yang ingin berkuasa untuk menggulingkan kekuasaan yang sedang berjalan. Taktik mengadu domba ini mencapai puncaknya ketika Mataram harus dibagi dua, Yogyakarta dan Surakarta.

Meski demikian, perlawan secara sporadis diberikan untuk meraih kembali wilayah-wilayah penting dari kekuasaan bangsa asing. Penyerbuan Batavia oleh laskar Fatahillah yang kemudian berhasil merebutnya dan mengganti namanya menjadi Jayakarta. Pangeran Diponegoro melawan kesewanangan Belanda ketika dipaksa untuk menyerahkan tanah leluhurnya untuk pembangunan jalan.

Perlawanan ini jauh dari berhasil, karena dilaksanakan sendiri-sendiri dan dengan persenjataan yang jauh dari memadai untuk melawan persejataan asing.

Indonesia, Awal Abad 20

Di awal abad 20, berkembang pemikiran bahwa negara penjajah memiliki tanggung jawab moral terhadap negeri jajahannya. Faham ini dikenal dengan politik etis atau politik balas budi yang dipelopori salah satunya oleh Van de Venter. Salah satu poin penting dari politik balas budi ini adalah memperluas akses pendidikan kepada para penduduk pribumi, yang kemudian dijalankan oleh pemerintah kolonial. Salah satunya dengan membuat sekolah dokter (STOVIA, sekarang FKUI) di Batavia dan THS (sekarang ITB) di Bandung, meskipun dibalik pendirian sekolah tinggi tersebut lebih didorong oleh kebutuhan pemerintah kolonial sendiri akan tenaga terampil dibidang kesehatan dan infrastruktur.

Dengan lebih terbukanya akses pendidikan (meskipun masih terbatas untuk golongan tertentu), makin banyak kaum pribumi yang terpelajar yang mulai memilik kesadaran akan kondisi disekitarnya. Meski kebanyakan adalah golongan priyayi dan ras campuran serta putra saudagar, namun atas pengaruh revolusi perancis, maka prinsip kesetaraan mulai menjadi perhatian. Perjuangan menuntut kemerdekaan pun dimulai. Boedi Oetomo didirikan oleh Dr. Sutomo pada tanggal 20 Mei 1908. Berdirinya Budi Utomo menjadi awal gerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia. Saat ini tanggal berdirinya Budi Utomo, 20 Mei, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Kemudian Indische Partij yang merupakan partai politik pertama di Hindia Belanda, berdiri tanggal 25 Desember 1912. Didirikan oleh tiga serangkai, yaitu E.F.E. Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara. Indische Partij, yang berdasarkan golongan indo yang makmur, merupakan partai pertama yang menuntut kemerdekaan Indonesia.

Di era ini, perjuangan menuju kemerdekaan mulai menemukan arahnya. Dan puncaknya digelarlah Kongres Pemuda. Pada Kongres Pemuda II tercapailah suatu deklarasi yang kemudian dikenal dengan Sumpah Pemuda. Sumpah pemuda terdiri dari tiga isi penting:

  • PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
  • KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
  • KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

Inilah cikal bakal Indonesia, sebuah pijakan baru dalam arah perjuangan mencapai kemerdekaan. Indonesia 1.0.

Yang menjadi catatan dengan adanya Sumpah Pemuda ini adalah upaya menyatukan Nusantara yang begeser dari ambisi kekuasan dan feodalisme pada masa pra-kolonial menjadi sebuah kesadaran atas persamaan nasib. (Inilah yang membuat saya terkadang merasa “risih” dengan “dicomotnya” ikon penyatuan Indonesia dari era pra-kolonial dalam kehidupan sekarang. Karena hal itu muncul “by force” bukan “by conscious”).

Indonesia 1.0 dan Indonesia Merdeka

Dengan adanya Sumpah Pemuda, arah perjuangan semakin jelas. Perjuangan pun bergeser dari angkat senjata menjadi angkat pena. Melalu gerakan-gerakan kepemudaan dan politik, tuntutan untuk Indonesia merdeka bergulir. Tokoh-tokoh pemuda bermunculan dari segenap penjuru tanah air. Soekarno, Hatta, Setiabudi, Ki Hajar Dewantara, semuanya berjuang demi kemerdekaan melalu jalur politik. Kebangkitan kesadaran pemuda ini membuat pemerintah Hindia Belanda gerah dan mulai melakukan pembersihan terhadap gerakan nasionalisme ini.

Sementara itu di benua Eropa sendiri keadaan mulai memanas dengan adanya perang dunia I dan kemudian perang dunia II. Perang dunia II dengan skala yang lebih besar membuat cengkraman bangsa Eropa melemah di Asia, khususnya Asia Tenggara. Jepang menjadi kekuatan baru di Timur yang kemudian mengusir bangsa Eropa dari Asia. Sempat dianggap sebagai saudara tua, namun kedatangan Jepang ternyata juga memiliki tujuan yang sama, penjajahan.

Perang Dunia II mencapai puncaknya ketika negara-negara Eropa dan Amerika Serikat bersekutu untuk melawan kekuatan fasis, Jerman, Italia dan Jepang. Negara Eropa yang dimotori Inggris dan Perancis melawan Jerman dan Italia di Eropa dan Afrika Utara dengan dibantu amerika. Amerika melawan Jepang di pasifik. Aliansi ini membuahkan hasil ketika sekutu mulai dapat memukul balik kekuatan fasis. Dengan Jepang dalam posisi terdesak, maka dibentuklah BPUPKI dan kemudian dilanjutkan oleh PPKI untuk persiapan kemerdekaan Indonesia. Perang Dunia II di wilayah Asia dan Pasifik sendiri berakhir ketika Jepang menyerah setelah Amerika menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada tanggal 8 dan 14 Agustus 1945. Saat itu terjadi kekosongan kekuasaan dengan menyerahnya Jepang, momen ini digunakan untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno membacakan Proklamasi kemerdekaan Indonesia. Inilah puncak perjuangan kesadaran akan persatuan yang diawali oleh Sumpah Pemuda. Inilah tujuan Indonesia 1.0.

Bersambung… [mudah-mudahan saya sempat menulis sambungannya segera)

Menjelang 17 Agustus nih, sebentar lagi peringatan kemerdekaan Republik Indonesia tercinta yang ke 64. Ibarat manusia, Indonesia masih bayi, masih kecil dan akan terus tumbuh dan menjadi besar. Tapi semua tergantung manusia-manusia di dalamnya. Kalau manusia-manusia di dalamnya enggan mengembangkan diri, ya jangan harap bangsa ini menjadi besar.

Sering menjadi pertanyaan, “Apa yang bisa kamu berikan untuk bangsa ini?”

17 Juli kemarin menjadi momen titik balik untuk bangsa ini maju lebih jauh, meski untuk menunjukkan itu harus melalui sebuah peristiwa mengenaskan. Lagi-lagi bom, teroris, tapi justru bom ini meledakkan semangat yang lebih dahsyat, setidaknya di dunia maya, ya gerakan #IndonesiaUnite, sebuah gerakan yang berawal dari rasa amarah dan kesedihan atas peristiwa bom bunuh diri di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton Jakarta.

Gerakan #IndonesiaUnite ini kemudian bergulir menjadi lebih besar, dari pernyataan #IndonesiaUnite against terrorism, menjadi gerakan yang lebih nyata. Gerakan ini membawa pesan, bahwa Indonesia bukan negara teroris, dan kami mengutuk teroris, sekaligus menyatakan masih banyak yang indah yang bisa anda dapatkan di Indonesia.

Gerakan ini kemudian menjadi lebih nyata, karena dampak bom bunuh diri ini ternyata juga menghantam para pedagang kaos yang sedianya berharap untuk mendapat untung atas digelarnya perhelatan pertandingan antara Manchester United dan PSSI All Star dalam rangka MU Asian Tour. Pertandingan ini harus dibatalkan karena Ritz Carlton, tempat tim MU menginap menjadi sasaran bom bunuh diri kali ini. Hal ini meninggalkan puluhan pedagan kaos dan merchandise dengan harapan hampa. Terbayang sudah kaos dan merchandise yang hanya akan menjadi tumpukan barang tak laku, kerugian dan hutang yang harus ditanggung oleh mereka. Diantara keputusasaan itu, atas inisiatif beberapa orang teman, mereka membeli kaos yang tidak laku tadi dan dijadikan kaos bolak-balik alias bolbal , dari Manchester United menjadi #IndonesiaUnite. Tentu, ini menyelamatkan beberapa pengrajin kaos yang semula sudah putus harapan.

Itulah sekelumit apa yang dilakukan anak bangsa dalam menjawab pertanyaan, “Apa yang bisa kamu berikan untuk bangsa ini?”

Lalu apalagi yang bisa kita sebagai anak bangsa, sebagai pewaris tanah air ini untuk bangsa ini. Banyak, namun saya hanya akan mengajak kita semua melakukan sesuatu yang sederhana. Jadilah manusia Indonesia yang lebih baik, untuk Indonesia yang lebih baik.

Kalau kamu pelajar, jadilah pelajar yang lebih baik, dengan nilai lebih baik, tidak mencontek dan aktif dalam kegiatan di lingkungan sekolah atau kampus.

Kalau kamu pengguna jalan, jadilah pengguna jalan yang baik, taati peraturan lalu lintas.

Kalau kau seorang penumpang angkutan umum, jadilah penumpang yang baik dengan menunggu bus di halte.

Buanglah sampah pada tempatnya, merokok hanya di ruang yang telah disediakan. Banyak sekali hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan sehingga kita menjadi manusia yang lebih baik dan membawa bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik pula.

BETTER YOU FOR BETTER NATION!

The Periodic Table of the Elements is a way to arrange the elements to show a large amount of information and organization.We number the elements, beginning with hydrogen, number one, in integers up to the largest number (118). The Periodic Table is arranged in order of increasing atomic number.

The Periodic Table lists the following:

  1. Element symbol (one or two letters). For every element there is one and only one upper case letter. There may or may not be a lower case letter with it.
  2. Atomic number (the integer number listed just above the element symbol). The atomic number is the number of protons in the nucleus of each atom of the element.
  3. Atomic mass or atomic weight (the number below the element symbol). The atomic mass is not an integer. This number is the sum of the number of protons plus the average number of neutrons in that element.
  4. Other information may also be listed.

The periodic chart came about from the idea that we could arrange the elements in a way that would show similarity among groups. As you read across the chart from right to left, a row of elements is a Period. As you read down the chart from top to bottom, a column of elements is a Group or Family.

The original idea for organizing the elements came from noticing how they combined with oxygen. Oxygen combines in some way with all the elements except the inert gases. The Groups or columns are numbered from left to right, beginning with 1

PeriodicTableimage taken from here

Group IA elements are called the alkali metals.
They include lithium (Li), sodium (Na), potassium (K), rubidium (rb), cesium (Cs), and francium (Fr).
This group does not include hydrogen since H is not a metal even though H is in Group IA.
These elements usually have +1 charge in compounds.
Each atom of oxygen combines with two atoms of any element in Group 1.

Group IIA elements are called the alkaline earth metals.
This is the column of elements including and below beryllium (Be).
These elements usually have +2 charge in compounds. Each atom of oxygen combines with one atom of any element in Group 2.

Group IIIA is the column including and below below boron (B). All of these elements combine with oxygen at the ratio of one-and-a- half to one oxygen.

Group IVA, beginning with carbon (C), combines two to one with oxygen.

Group VA is the nitrogen (N) column.

Group VIA is the oxygen (O) column.

Group VIIA is the fluorine (F) column. These elements are called the Halogens. These elements tend to have -1 charge in compounds. When found as a pure element, the halogens are found as diatomic (two-atom) molecules: F2, Cl2, etc.

Group VIIIA elements, along the right side of the table, are called the noble gases or inert elements.
They include helium (He), neon (Ne), argon (Ar), krypton (Kr), xenon (Xe), and radon (Rn).
They are fairly unreactive, so not commonly charged. They do not react with or combine with oxygen or any other element.

The transition elements or transition metals, are in the central section of periodic table (numbers 21-30 and 39-48 and 71-80 and 103 up). They tend to have positive charges in compounds, but can have multiple charges (i.e., their charges are not generally predictable).
These elements have never been adequately placed into the original scheme relating to oxygen. The transition elements vary in the ways they can attach to oxygen, but in a manner that is not readily apparent by the simple scheme.

Most Periodic Charts have two rows of fourteen elements below the main body of the chart.
These elements are called the inner transition elements or inner transition metals.
These two rows, the Lanthanides and Actinides really should be in the chart from numbers 57 – 70 and from 89 – 102. To show this, there would have to be a gap of fourteen element spaces between numbers 20 – 21 and numbers 38 – 39. This would make the chart almost twice as wide as it is now.

The Lanthanides belong to Period 6, and the Actinides belong to Period 7.

Lanthanides, elements 57 – 70, are also called the rare earth elements. The Lanthanide elements are so rare that you are not likely to run across them in most beginning chemistry classes.

No element greater than #92 is found in nature. They are all man-made in the laboratory.

None of the elements greater than #83 have any isotope that is completely stable. This means that all the elements larger than bismuth are naturally radioactive. Another oddity of the Periodic Chart is that hydrogen does not really belong to Group I — or any other group. Despite being over seventy percent of the atoms in the known universe, hydrogen is a unique element.

The Periodic Table can also be divided up into several categories, including metals, non-metals, semi-metals, noble gases, and hydrogen.

1. Metals: left side of stairstep line in the Periodic Table shown above (including lanthanides and actinides) except H. The majority of the elements are metals. Metals have the following properties:

a) conduct heat and electricity
b) malleable (can be hammered into sheets and shaped — like coins and jewelry)
c) ductile (can be drawn into wire)
d) often shiny
e) tend to lose electrons (become positively charged) in chemical reactions

2. Nonmetals: right side of stairstep line in the Periodic Table shown above plus hydrogen (H). This category does not include last column of inert elements or noble gases.

3. Semi-metals or Metalloids: The staircase-shaped line between metals and non-metals has several elements on or near it that have properties somewhere between the two categories or exhibit some of the qualities of both.
For this reason they are called semi-metals or metalloids (meaning metal-like).
This category includes silicon (Si), germanium (Ge), arsenic (As), antimony (Sb), and tellurium (Te).
Some chemists also include boron (B), aluminum (Al), polonium (Po), and astatine (At) in the semi-metals.

Many of the semi-metals are semiconductors of electricity, meaning that they have the ability to conduct electricity somewhere between almost none and full conduction. This property is useful in the electronics industry.

4. Noble gases or inert elements: –He, Ne, Ar, Kr, Xe and Rn, which are not considered metals or nonmetals.

5. Hydrogen: Elements in the same group tend to have similar chemical properties, but H is a nonmetal, so why is it grouped with the alkali metals?

Although H is considered a nonmetal, it often behaves chemically like the alkali metals because of its unique electron configuration. Because of its unique electron configuration, H can frequently be found with a +1 charge like the alkali metals and therefore it often undergoes chemical reactions that alkali metals undergo.

On the other hand, because of its unusual electron configuration, H can often be found with a -1 charge (like the halogens). In its pure form, hydrogen is also a diatomic molecule (H2) like the other halogens.

The halogens are nonmetals, so when H acts like the other halogens, it is behaving more like a nonmetal. Because of this ambivalent behavior of H, some people place H in two places on the Periodic Table: in Group IA and also in Group VIIA. Other Periodic Tables place H at the top of the Periodic Table — leaving it out of all Groups. Most Periodic Tables, however, show H in Group IA.

contents taken from here

High school students often find difficulties in chemistry. Here are some easy way to understand chemistry.

1. All metal elements are ended with -um, except Manganese it’s metal but not ended with -um and Helium it’s gas not metal.
2. All metal elements can only be found in solid form, except Hg, it’s liquid.
3. Ionic bonds only happens between metals and non-metals.
4. Bonds between non-metals usually covalent
5. Elements in group 1A is the most reactive metals and can easily form ionic bonds with elements from group 7A.

Some magic numbers:

6.022 x 10^23 is the number of molecules in one mole of substance.

22.4, is the volume of one mole of gas at Standard Temperatures and Pressures, in liter.

Those information can easily gives you 20 points in exam.
Cheers